SULBARONLINE.COM, Mateng – Gelombang modernisasi sektor pertanian kian masif merambah kawasan pedesaan di Sulawesi Barat. Kehadiran teknologi Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) modern, seperti mesin pemanen kombinasi (combine harvester), terbukti mampu mengubah peta efisiensi operasional dan kalkulasi bisnis tani secara signifikan jika dibandingkan dengan metode pemanenan tradisional secara manual.
Fenomena pergeseran teknologi ini terekam jelas di kawasan persawahan Desa Lara, Kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng).
Kedatangan dua unit combine harvester Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Pemprov Sulbar) sejak Juni lalu telah membawa angin segar sekaligus dinamika baru bagi tata kelola panen serta ekosistem ekonomi perdesaan setempat.
Operator Alsintan lokal, Bonirin, mengungkapkan bahwa efisiensi waktu dan tenaga menjadi alasan utama para petani di Desa Lara berbondong-bondong beralih dari tenaga kerja manual ke pemanenan berbasis mekanisasi.
“Karena petani mencari mudahnya, mencari cepatnya. Biasa kalau manual itu kan 1 hektar minimal 2 hari, 3 hari, kalau ini kan hitung jam saja,” ungkap Bonirin saat ditemui Sulbaronline.com di lokasi persawahan Desa Lara, Rabu 12 Agustus 2026.
Dari kalkulasi biaya bahan bakar, pengerjaan lahan seluas 1 hektar pada kondisi medan sawah kering hanya mengonsumsi sekitar 1 jerigen solar. Namun, apabila menghadapi kondisi medan persawahan yang lembek atau berlumpur tebal (bonyok), konsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar tersebut mengalami peningkatan hingga sekitar 1,5 jerigen per hektarnya. Selain akselerasi durasi kerja, keunggulan dari penggunaan mesin panen ini terletak pada penekanan tingkat penyusutan hasil panen (losses).
Dibandingkan pemanenan tradisional, pemanfaatan Alsintan modern diperkirakan mampu menyelamatkan bulir padi hingga selisih 3 persen, yang berdampak langsung pada peningkatan volume dan kualitas beras yang dihasilkan. Kendati kualitas fisik gabah yang dipanen dengan mesin relatif lebih disukai pembeli, potensi produksi maksimal petani di Desa Lara masih terganjal oleh maraknya bulir padi hampa.
“Di sini maksudnya kalau macam manual kita bisa dapat ndak sesuai. Baru banyak pembeli juga mengeluh toh. Di situ kalau pakai mobil panen itu kualitas padi bagus, cuma di sini ibaratnya kurang fungisidanya, jadi banyak hampa padinya orang,” beber Bonirin menjelaskan kendala kualitas gabah.
Meski efisiensi operasional meroket, masuknya mekanisasi pertanian ini tidak meretas perjalanan tanpa resistensi sosial. Pada fase awal pengenalan unit combine harvester di persawahan Desa Lara, gelombang keluhan sempat timbul dari para buruh tani lokal yang merasuki kekhawatiran akan kehilangan lapangan pekerjaan serta sumber mata pencaharian harian mereka.
Dari aspek penyerapan tenaga kerja operasional, satu unit armada combine harvester umumnya dijalankan oleh tim inti yang terdiri dari 1 orang operator utama dan 1 orang asisten (helper). Namun, dalam skema pengelolaan penuh satu armada mobil panen, setidaknya tetap membutuhkan sekitar 7 orang tenaga kerja pendukung untuk menopang kelancaran logistik dan pengangkutan di lapangan.
Mengenai status kepemilikan armada Alsintan yang beroperasi sejak Juni di Desa Lara tersebut, Bonirin menegaskan bahwa unit mesin modern tersebut bukanlah modal pribadi maupun sewaan UPJA mandiri, melainkan program bantuan hibah dari pemerintah daerah Mamuju Induk, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulbar.
Dalam skema sewa jasa alsintan kepada para petani pemilik sawah, tarif tidak dipatok dalam bentuk tunai kaku, melainkan menggunakan sistem hasil panen gabah. Rata-rata besaran tarif sewa dipatok sekitar 4 hingga 5 kwintal gabah per hektarnya, menyesuaikan dengan kondisi kerapatan serta produktivitas bulir padi di persawahan setempat.
Jika ditinjau dari estimasi keekonomian mandiri, unit combine harvester dengan nilai investasi awal melebihi Rp 500 juta diproyeksikan mencapai titik impas atau Break Even Point (BEP) dalam kurun waktu sekitar 3 musim tanam.
Kecepatan balik modal tersebut sangat bergantung pada konsistensi cakupan luas areal persawahan yang dilayani dalam tiap musim panen. Namun demikian, operasional mesin di lapangan kerap membentur tantangan fisik yang cukup berat, terutama kondisi lumpur persawahan yang dalam serta risiko kerusakan mekanis alat.
“Lumpur sama kerusakan alat. Kalau satu musim tanam itu ndak pasti, biasa itu ya tercapai lebih 10 juta, kadang 20 juta, di situ ongkos perbaikan toh,” papar Bonirin merincikan alokasi biaya pemeliharaan mesin.
Secara historis, armada mesin panen ini sebenarnya telah diproduksi dan beroperasi sejak tahun 2017 di wilayah Sulbar. Kehadirannya yang baru masuk dan mengaspal di kawasan persawahan Desa Lara pada Juni 2026 menegaskan komitmen pemerataan modernisasi pertanian guna memacu efisiensi agribisnis dan ketahanan pangan di Kabupaten Mateng.
(ad/ad)












