SULBARONLINE.COM, Mamuju — Tiga Sekolah Dasar (SD) di Desa Leling Utara, Kecamatan Tommo, Kabupaten Mamuju menggelar perkemahan gabungan, Jumat hingga Minggu, 14-16 Agustus 2026.
Ketiga Sekolah yang menyelenggarakan kegiatan tersebut, yakni SD Negeri Salupattung, SD Negeri Salumoni dan SD Negeri Buntulalong.
Kegiatan yang dipusatkan di Dusun Salupattung, Desa Leling Utara ini, dilaksanakan dalam rangka memeringati Hari Pramuka ke-65 dan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-81 Tahun.
Selama perkemahan berlangsung, beragam lomba pun dihelat oleh penyelenggara di kegiatan tersebut. Dan, di antara lomba itu, yang paling menarik perhatian dan mendapatkan apresiasi dari masyarakat adalah lomba Puisi bahasa Mamuju dan Lomba Menyanyi menggunakan Bahasa Mamuju dengan tariannya secara kelompok dan individu.
Untuk lomba menyanyi, lagu wajib yang dipilih adalah ‘Pulo Karampuang’ dan lagu bebas bahasa Mamuju lainnya, seperti lagu ‘Oh Mamuju’.
Kegiatan ini pun mendapat apresiasi dan dukungan positif dari berbagai pigak, terutama Kepala Desa Leling Utara, Ruddin Muis.
“Saya sangat bersyuku dan tentu sangat mendukung kegiatan-kegiatan seperti ini, terutama lomba yang bertema budaya Mamuju. Karena itu, kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya,” ucap Ruddin.
Sementara, Kepala Sekolah SD Negeri Buntulalong Daeng Sifirman, menjelaskan alasannya mengapa melaksanakan lomba menggunakan Bahasa Daerah dan menampilkan pakaian atau Baju adat dalam lomba tersebut.
“Karena ini merupakan bagian dari dukungan penuh atas Program Pemerintah Kabupaten Mamuju, salah satunya Penerapan kurikulum Bahasa Mamuju di Satuan pendidikan SD dan SMP dengan meluncurkan Buku Taki Ma’basa Mamuju,” jelas Daeng Sifirman
Selain itu, menurut Daeng Sifirman, lomba bertema Budaya bahasa Mamuju tersebut dilaksanakan juga sebagai bukti rasa cinta terhadap Budaya Mamuju.
“Jadi itu semua bentuk kecintaan kita pada Budaya Mamuju, termasuk bahasanya, Pakaian adatnya dan prilakunya yang mencerminkan kepribadian yang terbuka, sejalan dengan filosofi nenek moyang Mamuju yang biasa saya dengar, seperti Ampunna’ Muinungdo Uai randanna Mamuju menjari to Mamuju do tau’ ittu, yang artinya siapapun yang datang dan tinggal di Mamuju secara otomatis menjadi bagian dari keluarga besar Mamuju tanpa memandang suku, ras, Agama dan sosial,” ungkapnya.
Menurut Daeng Sifirman, meskipun berada di pelosok terjauh dari Kota Mamuju, nun spirit untuk mendorong generasi agar mengenal budaya Mamuju harus terus digalakkan.
“Jadi kami juga merasa punya tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan Budaya tersebut melalui pembelajaran Bahasa Mamuju dan pengenalan Budayanya,” tutupnya.












