SULBARONLINE.COM, Mamuju – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) menegaskan bahwa pembangunan daerah yang berkelanjutan tidak boleh hanya bertumpu pada infrastruktur fisik, melainkan juga harus menyasar pada pembangunan kesadaran sejarah dan karakter budaya masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Sekretaris Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Dispoparekraf) Provinsi Sulawesi Barat, Andi Saiful Rauf, saat menjadi pembicara dalam acara Mamuju Heritage Forum yang berlangsung di Atrium Mall Matos Mamuju, Sabtu, 11 Juli 2026.
Langkah ini dinilai sejalan dengan visi Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, yang gencar mendorong peningkatan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, berkarakter, sekaligus inklusif melalui pelestarian nilai-nilai lokal.
Menurut Andi Saiful, nilai-nilai luhur budaya daerah idealnya sudah mulai ditanamkan kepada anak-anak sejak usia dini. Upaya ini harus dilakukan secara masif dan terintegrasi, mulai dari lingkungan terkecil.
“Jika anak-anak sejak kecil sudah dikenalkan dengan sejarah, adat istiadat, bahasa, seni, dan nilai-nilai budaya daerahnya, maka rasa memiliki terhadap warisan leluhur akan tumbuh dengan sendirinya,” ujar Andi Saiful pada Sabtu.
Ia menambahkan bahwa proses internalisasi tersebut perlu diterapkan dalam tiga pilar utama yakni, lingkungan keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan formal.
Sebagai langkah konkret, pria yang juga dikenal aktif sebagai budayawan Mamuju sekaligus Pembina Sanggar Tari Bambamanurung 45 ini berharap Mamuju Heritage Forum tidak berhenti sebagai ajang seremonial belaka. Ia mendorong adanya tindak lanjut berupa penyusunan rancangan program penguatan materi muatan lokal (mulok).
Rencana penguatan mulok ini ditargetkan menyasar seluruh jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan dasar, hingga pendidikan menengah.
“Saya berharap forum ini dapat menghasilkan komitmen untuk makin memperkuat muatan lokal di lembaga pendidikan formal. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya mengenal budaya daerahnya, tetapi juga memiliki rasa bangga, kepedulian, dan tanggung jawab untuk menjaga serta melestarikannya,” kata Andi Saiful menegaskan.
Di tengah gempuran arus modernisasi, Andi Saiful mengingatkan bahwa pelestarian kebudayaan tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan sinergi yang kuat dari berbagai elemen agar nilai-nilai lokal dapat beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.
“Kolaborasi antara pemerintah, komunitas budaya, akademisi, pelaku seni, dan masyarakat menjadi kunci agar nilai-nilai budaya tetap hidup,” tuturnya.
Mamuju Heritage Forum sendiri digelar sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Jadi Mamuju. Acara ini sukses mempertemukan para akademisi, budayawan, pemerhati sejarah, hingga tokoh masyarakat.
Melalui ruang dialog dan refleksi ini, Pemprov Sulbar berharap lahir berbagai gagasan strategis yang mampu menjadikan warisan sejarah sebagai salah satu aset penting dan inspirasi utama dalam arah pembangunan daerah ke depan.
(*/ad)





