Ketika Sepotong Daging Kurban Mengalirkan Kebahagiaan ke Dapur-Dapur yang Sunyi

SULBARONLINE.COM, Mateng – Ada sesuatu yang magis ketika sebuah komunitas memutuskan untuk menanggalkan sekat-sekat modernitas dan kembali ke tanah.

Di sebuah sudut ladang yang dikelilingi pohon kelapa yang menjulang tinggi di Desa Lara, Kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Sulawesi Barat, aroma tanah basah berbaur dengan riuh rendah percakapan warga yang guyub. Di sanalah, di atas hamparan daun pisang, esensi sejati dari Hari Raya Kurban sedang ditulis ulang.

Bukan oleh kepanitiaan formal yang kaku dengan seragam serba rapi, melainkan oleh tangan-tangan legam para petani dan pekebun lokal. Di tengah lingkaran itu, duduk bersila seorang pria dengan kaus jingga dan topi yang dibalik ke belakang.

Namanya Hasanuddin Sabir. Tangannya yang kekar dengan lincah mengayunkan pisau, memisahkan serat-serat daging kurban di atas sebilah papan talenan sederhana.

Bagi Hasanuddin, memotong daging kurban di alam terbuka Desa Lara seperti ini bukan sekadar rutinitas jagal tahunan. Ini adalah sebuah ritus kebudayaan untuk merekatkan kekerabatan warga desa.

“Kalau di kota, kurban itu sering kali sekadar datang, antre kupon, lalu pulang bawa plastik. Tapi di Desa Lara ini, keseruannya adalah prosesnya. Di sinilah kita saling mendengar cerita, saling melempar tawa, dan tahu siapa tetangga kita yang sedang kesusahan,” tutur Hasanuddin, sembari menyeka keringat di dahinya, Rabu, 27 Mei 2026.

Jika kamera digeser sedikit lebih lebar, lanskap sosial di sekitar Hasanuddin adalah sebuah potret mini Indonesia yang ideal. Tidak ada jarak sosial. Semua orang, dari berbagai latar belakang usia di Desa ini, melebur tanpa canggung.

Di sebelah kiri, generasi muda duduk berjongkok sembari memegang kantong plastik, siap mendistribusikan hasil potongan. Di sudut lain, anak-anak kecil memperhatikan dengan mata berbinar sebuah proses transmisi budaya gotong royong yang terjadi secara organik.

Sementara itu, para tetua kampung Desa Lara duduk di bangku kayu darurat di latar belakang. Mereka mungkin tak lagi kuat menguliti sapi atau memotong tulang yang keras, namun kehadiran mereka adalah jangkar moral. Dari mulut mereka, cerita-cerita masa lalu mengalir, diselingi petuah hidup yang didengarkan takzim oleh yang muda.

“Ini adalah ruang praktikum bagi anak-anak di Desa Lara. Mereka belajar bahwa untuk mengenyangkan perut orang banyak, butuh tangan-tangan yang mau kotor oleh darah dan tanah. Itu pelajaran solidaritas yang tidak ada di sekolah,” tambah Hasanuddin, merefleksikan kehadiran anak-anak di sekelilingnya.

Saat matahari mulai meninggi dan menembus celah-celah pelepah kelapa, tumpukan daging di hadapan Hasanuddin mulai berpindah ke dalam wadah-wadah plastik siap edar. Sandal-sandal jepit yang berserakan di batas lapak menjadi saksi bisu, bahwa hari itu di Desa Lara, sekat-sekat sosial telah runtuh. Kebersamaan, sekali lagi, berhasil diselamatkan lewat sepotong daging kurban.

(ad/ad)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *