SULBARONLINE.COM, Mamuju – Sulitnya mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi serta minimnya bantuan permodalan kian mencekik operasional para pedagang ikan eceran di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kasiwa, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Kondisi ini membuat aktivitas perdagangan di TPI Kasiwa terus melesu dan menekan tingkat kesejahteraan para pedagang kecil.
Kondisi pasokan ikan yang serba tidak pasti membuat stabilitas harga di tingkat pedagang fluktuatif. Harga ikan melonjak tinggi, namun daya beli masyarakat justru mengalami penurunan karena tak sanggup menjangkau harga yang terlampau mahal.
Dampak domino ini dirasakan langsung oleh para pedagang eceran di TPI. Mulyadi (53), salah seorang pedagang ikan yang telah berjualan selama 10 tahun sejak 2015, mengungkapkan betapa sulitnya menjaga denyut usaha di tengah rantai pasok dan pasang surut harga BBM bagi nelayan.
Menurut Mulyadi, ia dan rekan-rekannya sering kali tak bisa langsung mengakses BBM dari jalur resmi seperti Pertamina karena antrean yang sangat panjang. Akibatnya, para pedagang terpaksa membeli solar atau bensin di tingkat pengecer dengan harga yang jauh lebih tinggi mencapai kisaran Rp 14.000 per liter demi bisa terus beroperasi.
“Biasa kita ambil bukan langsung dari Pertamina karena naik harganya kalau di pengecer. Kita tak bisa antre di sana karena banyak sekali orang, jadi terpaksa beli di pengecer,” tutur Mulyadi saat ditemui Sulbaronline.com di TPI Kasiwa, Mamuju, Jumat 7 Agustus 2026.
Tingginya beban operasional serta panjangnya rantai distribusi dari tengkulak hingga ke lapak pengecer membuat margin keuntungan pedagang semakin tergerus. Bagi Mulyadi, keuntungan yang diperoleh saat ini sangat tipis dan tak menentu. Bahkan, tak jarang ia harus menanggung kerugian jika pasokan ikan tidak laku terjual.
Penurunan daya beli masyarakat akibat melonjaknya harga pasokan ikan menjadi pukulan berat berikutnya. Ketika harga dari tengkulak atau nelayan sudah terlanjur melambung tinggi, pembeli memilih untuk mengurangi jumlah belanjaan mereka, yang pada akhirnya membuat omzet pedagang eceran makin merosot.
Tanpa adanya bantalan ekonomi yang memadai, kondisi ini berdampak nyata pada keberlangsungan lapak-lapak di TPI. Mulyadi menceritakan bahwa dari sekitar 50 pedagang yang dahulu memadati meja-meja jual di TPI, kini tersisa sekitar 40-an orang saja. Lebih dari 10 pedagang memilih gulung tikar akibat kehabisan modal kerja.
“Banyak teman-teman yang mundur karena modalnya sudah habis. Mau beli ikan gabus atau pasokan lain di luar, kita butuh uang. Kalau tidak ada modal, ya terpaksa cari pekerjaan lain,” ungkap Mulyadi.
Mulyadi dan para pedagang yang tersisa kini hanya bisa berharap adanya perhatian konkret dari Pemerintah Kabupaten Mamuju maupun Pemprov Sulawesi Barat. Bantuan suntikan modal usaha seperti skema permodalan murah sekitar Rp 1 juta per orang serta kemudahan akses BBM sangat dibutuhkan agar para pedagang kecil di TPI Mamuju bisa tetap bertahan menyambung hidup.
UPDATE harga ikan di TPI Mamuju:
1. Ikan layang = Rp40.000 /kilogram
2. Ikan cakalang = Rp35.000 /Kilogram
3. Ikan Batu = Rp40.000 /ikat
4. Ikan Sunu = Rp70.000 /ikat
5. Ikan katombo = Rp50.000 /kilogram
6. Ikan Tenggiri = Rp80.000 /kilogram
7. Ikan Katamba = Rp60.000 /kilogram
8. Ikan Sulir = Rp40.000 /ikat
9. Ikan kakap merah = Rp65.000 /ikat
10. Ikan Cepa = Rp65.000 /kilogram
11. Ikan Lamotu = Rp40.000 /ikat
12. Ikan Buronang = Rp50.000 /kilogram
13.Ikan Lila = Rp40.000 /ekor.
14. Ikan Bolu = Rp35.000 /kilogram.
(ad/ad)








