SULBARONLINE.COM, Mamuju – Kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) mencatatkan rapor hijau sepanjang lima bulan pertama tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor kumulatif Sulbar periode Januari-Mei 2026 sukses menyentuh angka 281,40 juta dollar AS atau setara dengan Rp 4,6 triliun.
Realisasi tersebut mencerminkan lonjakan pertumbuhan yang signifikan sebesar 21,31 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yang kala itu tertahan di angka 231,96 juta dollar AS.
Kepala BPS Provinsi Sulbar, Suri Handayani, mengungkapkan bahwa akselerasi pertumbuhan ekspor ini didorong kuat oleh performa impresif di sektor industri pengolahan serta geliat komoditas pertanian.
“Sektor industri pengolahan tumbuh 19,70 persen dari US$ 226,49 juta menjadi US$ 271,12 juta. Sementara itu, lompatan persentase terbesar dicatatkan oleh sektor pertanian yang meroket hingga 88,01 persen, naik dari US$ 5,47 juta menjadi US$ 10,28 juta,” ujar Suri Handayani dalam pemaparan Berita Resmi Statistik (BRS) di Mamuju, Rabu 1 Juli 2026.
Jika dibedah berdasarkan golongan barang, komoditas lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) masih menjadi tulang punggung mutlak bagi perekonomian ekspor Sulbar. Komoditas yang didominasi oleh turunan kelapa sawit ini menyumbang sebesar 254,26 juta dollar AS atau menguasai 90,36 persen dari total porsi ekspor.
Selain minyak nabati, berbagai produk kimia (HS 38) ikut berkontribusi positif sebesar 5,36 persen (15,07 juta dollar AS), disusul bahan nabati untuk anyam-anyaman (HS 14) sebesar 3,59 persen (10,11 juta dollar AS). Komoditas anyaman ini bahkan mengalami lonjakan pertumbuhan masif hingga 164,67 persen secara tahunan (c-to-c).
Kendati demikian, tren negatif justru membayangi komoditas unggulan historis Sulbar, yakni kakao (HS 18). Ekspor biji cokelat tersebut merosot tajam hingga 90,04 persen menjadi hanya menyisakan andil sebesar 0,06 persen dari total ekspor.
Berikut rincian performa komoditas utama ekspor Sulbar periode Januari-Mei 2026:
- Lemak & Minyak Nabati (HS 15): US$ 254,26 Juta (Kontribusi 90,36%, naik 18,96%)
- Berbagai Produk Kimia (HS 38): US$ 15,07 Juta (Kontribusi 5,36%, naik 47,80%)
- Bahan Nabati untuk Anyaman (HS 14): US$ 10,11 Juta (Kontribusi 3,59%, naik 164,67%)
- Ampas/Sisa Industri Makanan (HS 23): US$ 1,64 Juta (Kontribusi 0,58%, turun 26,57%)
- Kakao/Cokelat (HS 18): US$ 0,16 Juta (Kontribusi 0,06%, turun 90,04%)
Tiongkok Jadi Pasar Utama, Jalur Logistik Masih Bertumpu ke Sulteng
Terkait peta negara tujuan ekspor, Negeri Tirai Bambu masih kokoh sebagai pasar terbesar bagi produk-produk asal Sulbar. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, nilai ekspor menuju Tiongkok menembus angka 167,69 dollar AS, atau merepresentasikan 59,59 persen dari seluruh aktivitas perdagangan luar negeri Sulbar.
Negara mitra dagang utama berikutnya adalah Filipina dengan andil sebesar 17,15 persen (48,25 juta dollar AS) yang mencatatkan lonjakan ekspor fantastis sebesar 122,99 persen, diikuti Korea Selatan dengan kontribusi 8,21 persen (23,11 juta dollar AS).
Namun, di balik performa ekspor yang menggembirakan, terdapat catatan penting mengenai rantai pasok dan infrastruktur kepelabuhanan di Sulbar. BPS mencatat bahwa mayoritas komoditas bernilai tinggi asal Sulbar justru tidak dikirim melalui pelabuhan lokal.
Menurut data Berita Resmi Stastitik BPS Sulbar, tercatat sebesar 95,15 persen dari total komoditas ekspor atau senilai US$ 267,76 juta dikirim via Pelabuhan Pantoloan di Sulawesi Tengah (Sulteng). Sementara pengiriman yang tercatat langsung dari pelabuhan domestik, yaitu Pelabuhan Mamuju, baru mencapai US$ 11,75 juta atau sekitar 4,18 persen.
Kondisi ketergantungan logistik pada provinsi tetangga ini menjadi pekerjaan rumah strategis bagi pemerintah daerah guna mengoptimalkan potensi pendapatan dari aktivitas kepelabuhanan secara mandiri di masa depan.
Impor Minim, Neraca Perdagangan Surplus Mutlak
Di sisi lain, aktivitas impor Provinsi Sulbar tercatat sangat pasif dan terkendali. Total nilai impor kumulatif dari Januari hingga Mei 2026 hanya menyentuh angka 0,65 juta dollar AS.
Seluruh transaksi impor tersebut terjadi pada bulan Februari 2026 yang secara eksklusif mendatangkan komoditas bahan bakar mineral hasil minyak dari Tiongkok. Kondisi ini tergolong sangat kecil jika dibandingkan arus ekspor daerah yang masif.
Dengan total ekspor senilai 281,40 juta dollar AS berbanding impor yang hanya sebesar 0,65 juta dollar AS, maka neraca perdagangan Sulbar mengantongi surplus mutlak sebesar 280,75 juta dollar AS. Angka ini mempertegas posisi Sulbar sebagai salah satu daerah penopang devisa nasional berbasis komoditas perkebunan di koridor Pulau Sulawesi.
(ad/ad)












