SULBARONLINE.COM, Mamuju — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) resmi menggelar Mandarpreneur Syariah (Madrasah) Fair 2026 di Atrium Mall Matos Mamuju, Kamis, 25 Juni 2026. Melalui ajang ini, BI menargetkan total nilai transaksi UMKM mampu menembus minimal Rp1 miliar selama rangkaian Road to Festival Ekonomi Syariah (FESyar).
Tak hanya itu, bank sentral juga membidik penyaluran akses pembiayaan hingga Rp500 juta bagi para pelaku usaha lokal melalui kolaborasi dengan sektor perbankan dan lembaga keuangan syariah.
Kepala Perwakilan BI Sulbar, Eka Putra Budi Nugroho, mengungkapkan bahwa Madrasah Fair merupakan etalase awal dari program besar Mandarpreneur Academy yang diinisiasi tahun ini. Program tersebut dirancang untuk membangun ekonomi kerakyatan secara terstruktur melalui roadshow, asesmen, hingga kurasi ketat terhadap UMKM potensial dari Pasangkayu hingga Polewali Mandar (Polman).
“Kami ingin menemukan pelaku usaha yang memiliki potensi berkembang hingga ke tingkat nasional bahkan global,” ujar Eka di Mamuju, Kamis.
Kopi Sulbar Tembus Pasar Amerika Serikat
Salah satu bukti keberhasilan dari program pembinaan berkelanjutan yang dilakukan BI Sulbar adalah keberhasilan produk lokal menembus pasar internasional. Eka membeberkan, lewat kolaborasi dengan kantor perwakilan BI di New York, produk kopi unggulan asal Sulbar sukses mencuri perhatian dalam pameran di Amerika Serikat sekitar dua bulan lalu.
“Alhamdulillah, produk tersebut mendapatkan respons positif dan kini sedang dalam tahap penjajakan kerja sama bisnis dengan proyeksi kebutuhan mencapai 300 ton setiap enam bulan,” kata Eka.
Keberhasilan ekspor ini, lanjut Eka, menjadi bukti konkret bahwa produk komoditas Sulbar memiliki daya saing tinggi di pasar global asalkan diproduksi dengan standar kualitas yang baik. Pada gelaran Madrasah Fair 2026 kali ini, BI menampilkan 20 UMKM makanan-minuman olahan, 10 UMKM makanan basah, serta empat UMKM sektor wastra dan kerajinan kain tradisional.
Menjawab Tantangan Kemiskinan Lewat Pertumbuhan Inklusif
Langkah Bank Indonesia ini mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Provinsi Sulbar. Sekretaris Daerah Provinsi Sulbar, Junda Maulana, yang hadir mewakili Gubernur Suhardi Duka, menyatakan bahwa intervensi BI melalui penguatan UMKM dan ekonomi syariah sangat krusial di tengah pertumbuhan ekonomi daerah yang sebenarnya cukup positif. Saat ini, pertumbuhan ekonomi Sulbar bertengger di angka 5,3 persen, berada di atas rata-rata nasional.
Namun, Junda menggarisbawahi adanya tantangan ketimpangan. Angka kemiskinan di Sulawesi Barat masih tertahan di level 10,18 persen. Pemprov Sulbar sendiri menargetkan angka kemiskinan bisa ditekan ke kisaran 5 hingga 6 persen pada tahun 2030.
“Sulbar memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, tetapi angka kemiskinan masih di atas rata-rata nasional. Karena itu, kita ingin menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” kata Junda.
Junda menilai, model ekonomi syariah yang diusung BI menjadi alternatif tepat karena mengedepankan prinsip pemerataan kesejahteraan. Terlebih, Sulbar memiliki potensi ekonomi hijau dan biru yang melimpah, termasuk garis pantai sepanjang 670 kilometer yang belum dimaksimalkan.
Melalui sinergi dalam Madrasah Fair 2026, BI dan Pemprov Sulbar optimistis dapat mempercepat transformasi digital, memperluas akses pasar dan pembiayaan, sekaligus melahirkan generasi Mandarpreneur baru sebagai motor penggerak ekonomi daerah yang berkelanjutan.
(*/ad)






