Lansia Sulawesi Barat, Potret Produktivitas Sektor Pertanian dan Jaminan Hari Tua

SULBARONLINE.COM, Mamuju – Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) kini tengah bersiap memasuki babak baru transisi demografi yang positif. Berdasarkan rilis data makro dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Publikasi Statistik Penduduk Lanjut Usia 2025, tercatat sebanyak 8,78 persen penduduk di Sulbar kini berada di kategori lanjut usia (lansia). Angka ini mengindikasikan bahwa sekitar 1 dari 11 orang di wilayah ini telah mencapai usia 60 tahun ke atas, menandai meningkatnya angka harapan hidup di daerah tersebut.

Alih-alih menjadi beban pembangunan, kehadiran para sesepuh ini dipandang sebagai pilar penting yang menjaga nilai luhur adat, mentransfer kearifan budaya lokal, sekaligus motor penggerak ketahanan keluarga di tingkat akar rumput.

Data menunjukkan tingginya kontribusi sosial para lansia, di mana 56,70 persen di antaranya masih aktif mengemban amanah sebagai kepala rumah tangga. Selain itu, sebanyak 42,75 persen lansia hidup berdampingan secara harmonis dalam kerangka rumah tangga tiga generasi (three-generation family). Pola hidup ini mencerminkan kuatnya nilai kekeluargaan dan gotong-royong khas masyarakat Sulbar dalam memberikan dukungan moral serta perlindungan bagi anak dan cucu mereka.

Sektor Pertanian Tangguh: Potret Produktivitas Lansia Sulbar

Tingginya semangat kemandirian tercermin dari kuatnya etos kerja para lansia di Sulbar. Pemerintah daerah terus berupaya menjaga ruang-ruang produktif yang aman. Saat ini, tercatat sebanyak 61,27 persen lansia di Sulbar tetap memilih aktif bekerja dan mengaktualisasikan diri.

Sektor agraris yang menjadi keunggulan daerah merupakan wadah utama produktivitas ini. Sebesar 65,73 persen lansia mendedikasikan waktu dan pengalamannya di sektor pertanian. Dengan rata-rata waktu kerja yang sangat proporsional dan tidak berlebihan yaitu 26,38 jam per minggu para petani senior ini tetap berkontribusi menjaga ketahanan pangan daerah.

Mayoritas dari mereka mengelola lahan secara mandiri atau berkolaborasi dengan sistem kekeluargaan yang guyub yakni 32,93 persen bekerja dengan status berusaha sendiri, 40,21 persen berstatus pekerja keluarga atau berusaha dibantu buruh tidak dibayar dalam ekosistem pertanian keluarga yang solid.

Meskipun dari sisi latar belakang pendidikan masa lalu didominasi oleh lulusan pendidikan dasar di mana rata-rata lama sekolah berada di angka 6,07 tahun dan Angka Melek Huruf menyentuh 79,46 persen semangat kerja mereka terbukti mampu menjadi inspirasi bagi generasi muda.

Capaian Luar Biasa: 92 Persen Lansia Tercover Jaminan Kesehatan

Salah satu keberhasilan paling krusial dari intervensi kebijakan Pemprov Sulbar adalah di sektor jaring pengaman kesehatan. Jaminan medis bagi kelompok usia senja di Sulbar berjalan sangat optimal.

Sebanyak 92,15 persen lansia di Sulbar saat ini telah memiliki dan terlindungi secara resmi oleh Jaminan Kesehatan (BPJS/KIS).

Jaminan kesehatan yang hampir menyeluruh (universal health coverage) ini menjadi benteng pertahanan utama dalam mengantisipasi keluhan kesehatan yang dialami oleh 42,23 persen lansia, ataupun angka kesakitan yang berada di level 22,27 persen. Melalui fasilitas kesehatan yang semakin merata, setiap lansia yang membutuhkan penanganan medis dapat berobat secara gratis, cepat, dan layak.

Kemapanan Infrastruktur dan Optimalisasi Jaring Pengaman Sosial

Di sisi kesejahteraan papan, stabilitas ekonomi makro di Sulbar membawa dampak positif bagi kepemilikan aset riil masyarakat. Indikator infrastruktur tempat tinggal lansia di Sulbar menunjukkan capaian yang sangat membanggakan.

Sebanyak 98,21 persen lansia di Sulbar telah menempati dan memiliki rumah milik sendiri. Sebanyak 71,01 persen di antaranya tinggal di hunian yang tersertifikasi masuk kategori layak huni.

Di samping kemapanan aset berupa properti, pemerintah pusat dan daerah terus bersinergi memperkuat inklusi keuangan serta memperluas bantalan bantuan sosial. Guna melengkapi porsi jaminan sosial formal yang saat ini berada di angka 13,48 persen, distribusi bantuan berkala terus dipasok tepat sasaran.

Saat ini, program stimulan ekonomi seperti Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT)/Bansos Sembako telah meng-cover 23,67 persen lansia. Sementara itu, jaring pengaman dari Program Keluarga Harapan (PKH) menyokong kehidupan 22,64 persen lansia di Sulbar. Kombinasi program ini berhasil menjaga daya beli dan pemenuhan gizi kelompok rentan di perdesaan maupun perkotaan.

“Menua itu pasti, sejahtera harus diupayakan,” tulis BPS Sulbar dalam rilis resminya.

Kalimat ini dipandang sebagai pelecut semangat bagi pemerintah daerah untuk terus melahirkan inovasi program ramah lansia.

Dengan modal kepemilikan rumah yang tinggi, cakupan BPJS kesehatan yang hampir menyentuh 100 persen, serta etos kerja lansia yang tinggi, Sulbar berada di jalur yang tepat dalam memperkuat regulasi pemberdayaan, memperluas jaminan hari tua, serta mewujudkan kehidupan yang inklusif, sejahtera, dan bermartabat bagi para orang tua kita di sisa umur mereka.

(Sumber Data: Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Sulawesi Barat No. 34/05/76/Th. XX, 5 Mei 2026)

(*/ad)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *