SULBARONLINE.COM, Mamuju – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Pemprov Sulbar) bergerak cepat mengantisipasi potensi gagal panen akibat serangan penyakit tanaman pangan. Melalui UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH), pemprov menggelar Gerakan Pencegahan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) di Desa Tamemongga, Kecamatan Tommo, Kabupaten Mamuju, Selasa, 23 Juni 2026.
Langkah mitigasi ini menyasar hamparan pertanaman padi varietas Inpari 337 berumur 32 Hari Setelah Tanam (HST) yang dikelola oleh Kelompok Tani Sipatuju I dan Sipatuju II. Pencegahan tersebut difokuskan untuk menangkal tiga penyakit momok bagi petani, yakni blas, kresek, dan bercak daun coklat.
Kepala UPTD BPTPH Sulbar, Ritje Rombe K, menegaskan bahwa perlindungan tanaman seluas 80 hektare ini memerlukan tindakan preventif sebelum hama telanjur menyebar luas. “Kolaborasi seluruh pihak menjadi kunci keberhasilan dalam perlindungan tanaman dan peningkatan produksi pangan di Sulawesi Barat,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Sebagai langkah awal, petugas gabungan langsung melakukan pengendalian pada areal seluas 10 hektare. Alih-alih menggunakan bahan kimia, Pemprov Sulbar memilih pendekatan ramah lingkungan dengan mengaplikasikan Agens Pengendali Hayati (APH) Paenibacillus polymyxa. Cairan proteksi hayati ini diproduksi langsung oleh Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) Wilayah I Salugatta.
Kepala LPHP Wilayah I Salugatta, Sukri, menjelaskan bahwa intervensi sejak dini sangat krusial untuk menjaga imunitas padi pada fase pertumbuhan awal. “Penggunaan APH Paenibacillus polymyxa diharapkan mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan penyakit sehingga produksi padi dapat tetap optimal,” kata Sukri.
Hingga berita ini diturunkan, pengamatan berkala di lapangan menunjukkan hasil yang positif. Tim teknis belum menemukan adanya gejala serangan penyakit blas, kresek, maupun bercak daun coklat, sehingga angka luasan serangan masih tercatat nihil.
Secara terpisah, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Provinsi Sulbar, Hamdani Hamdi, menyebutkan bahwa gerakan ini merupakan perwujudan konkret komitmen pemda dalam menjaga stabilitas pangan berkelanjutan. Langkah proteksi tersebut juga sejalan dengan visi besar Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, untuk mendorong kesejahteraan berbasis potensi lokal.
“Upaya pencegahan OPT harus dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan. Dengan tanaman yang sehat dan produktif, kita dapat menjaga ketersediaan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan petani,” tutur Hamdani.
Aksi penyelamatan lumbung padi ini dipastikan tidak berhenti di sini. Guna memastikan efektivitas perlindungan tanaman tetap terjaga, Pemprov Sulbar bersama para petani lokal, penyuluh, dan Babinsa telah menjadwalkan gerakan pencegahan susulan dalam 14 hari ke depan dengan kembali menyemprotkan APH Paenibacillus polymyxa.
(*/hs)






