SULBARONLINE.COM, London — Menit ke-90 di papan skor menunjukkan angka 1-1. Ketegangan di Stadion Puskas Arena, Budapest, dalam laga puncak Liga Champions melawan Paris Saint-Germain berada di titik kulminasi. Babak penambahan waktu (extra time) sudah di depan mata. Dalam situasi di mana satu kesalahan kecil bisa berarti hilangnya trofi kuping lebar, Mikel Arteta melakukan sesuatu yang membuat seisi stadion—dan jutaan pemirsa layar kaca—menahan napas.
Papan pergantian pemain menyala merah dan hijau. Nomor 4, Martin Zubimendi, ditarik keluar. Penggantinya? Pemain nomor 49, Miles Lewis-Skelly. Pemuda tanggung berusia 19 tahun.
Bagi pengamat awam, ini adalah kepatutan yang menantang logika. Mengapa Arteta justru mencopot Zubimendi—gelandang berpengalaman senilai jutaan euro yang diboyong untuk laga-laga bertekanan tinggi seperti ini—dan menyerahkan nasib lini tengah Arsenal kepada seorang remaja di puncak laga paling krusial dalam sejarah modern klub?
Namun, bagi mereka yang membaca “isi kepala” Arteta sepanjang akhir musim 2026 ini, keputusan itu bukanlah kepanikan. Itu adalah sebuah perjudian taktis yang dingin, kalkulatif, dan sangat berani khas sang mentor, Pep Guardiola.
Berikut adalah ulasan mendalam di balik keputusan ekstrem Mikel Arteta yang menjadi buah bibir jagat sepak bola:
1. Kebugaran Zubimendi vs Kebuntuan Taktis
Martin Zubimendi adalah metronom yang luar biasa. Ia memberikan kedisiplinan posisi, proteksi di depan bek, dan ketenangan. Namun, menjelang akhir musim 2025/2026, gelandang asal Spanyol ini terlihat sangat kelelahan akibat intensitas menit bermain yang masif.
Di menit ke-90 melawan PSG yang bermain dengan garis pertahanan rendah (low block) setelah menyamakan kedudukan lewat penalti Ousmane Dembele, Arsenal tidak lagi membutuhkan jangkar yang statis. Arteta tahu, memaksakan Zubimendi yang kelelahan di babak extra time justru menjadi bom waktu jika PSG melancarkan serangan balik cepat lewat Bradley Barcola atau Desire Doue.
2. Atribut Khusus Lewis-Skelly: Senjata Penghancur Pressing
Miles Lewis-Skelly, yang memulai musim ini sebagai inverted left-back, bertransformasi di bulan Mei menjadi salah satu eksperimen terbaik Arteta sebagai double pivot mendampingi Declan Rice. Remaja 19 tahun ini memiliki satu keunggulan ekstrem yang tidak dimiliki Zubimendi: press-resistance dan kemampuan ball-carrying yang luar biasa.
Saat tim lawan kelelahan secara fisik dan mental di menit ke-90, mereka cenderung kehilangan kerapatan jarak antar-lini. Di sinilah Lewis-Skelly masuk. Dia adalah tipe gelandang yang tidak ragu memutar badan, menerima bola di ruang sempit, dan melakukan dribble vertikal menusuk langsung ke sepertiga akhir lapangan—sebuah tusukan yang tidak terduga yang bisa mengacaukan struktur pertahanan berlapis.
3. Struktur Pengamanan Declan Rice di Posisi ‘Nomor 6’
Arteta berani memasukkan Lewis-Skelly karena ia memiliki jaring pengaman bernama Declan Rice. Dengan menggeser Rice murni sebagai gelandang bertahan nomor 6 untuk mengover area luas, Arteta memberikan lisensi kepada Lewis-Skelly untuk bermain tanpa beban (fearless) dan bergerak lebih cair ke depan. Kehadiran Rice memberikan stabilitas defensif, sementara Lewis-Skelly memberikan dinamisme dan progresi bola ke depan yang lebih agresif daripada operan lateral (menyamping) milik Zubimendi.
“Terkadang Anda harus melakukan perubahan, Anda harus menempatkan pemain yang bisa memberi masalah baru bagi lawan,” ujar Arteta dalam sebuah kesempatan serupa musim ini.
Memasukkan Lewis-Skelly adalah cara Arteta mengeksploitasi kelelahan fisik PSG dengan menyuntikkan energi murni, kecepatan, dan kenekatan masa muda.
Perjudian Besar yang Berakhir Tragis
Pada akhirnya, malam di Budapest itu berakhir dengan drama memilukan bagi Meriam London. Pertandingan tetap berakhir 1-1 setelah perpanjangan waktu 2×15 menit, dan Arsenal harus merelakan trofi juara jatuh ke tangan PSG lewat babak adu penalti yang kejam (3-4).
Meski demikian, keputusan Arteta memasukkan Lewis-Skelly di menit ke-90 akan tetap dicatat sebagai salah satu momen taktis paling berani musim ini. Ini mempertegas cetak biru Arsenal di bawah Arteta: mereka tidak lagi menunggu momentum, mereka menciptakannya—bahkan jika itu berarti harus mempertaruhkan takdir di kaki seorang pemain berusia 19 tahun.
(ad/ad)












