SULBARONLINE.COM, Mamuju – Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian, dan Statistik (KominfoSS) Sulawesi Barat (Sulbar) mengambil langkah agresif dalam mempercepat penurunan angka stunting di wilayahnya. Memasuki pertengahan tahun anggaran 2026, KominfoSS Sulbar tengah mematangkan integrasi data lintas sektoral untuk mendukung program “Pastipadu 2026”.
Keputusan ini diambil guna menyatukan berbagai basis data yang selama ini terfragmentasi. Sistem yang akan diintegrasikan meliputi Sistem Informasi Gender dan Anak (SIGA), data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), DTSEN, hingga aplikasi Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPBGM) milik Kementerian Kesehatan.
Kepala DiskominfoSS Sulbar, Muhammad Ridwan Djafar, menegaskan bahwa ego sektoral dalam pengelolaan data harus diakhiri demi efektivitas penanganan stunting di lapangan.
“Integrasi data dari SIGA, BKKBN, hingga Kemenkes ini sangat krusial. Kita tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri dengan data masing-masing,” ujar Ridwan kepada media di Mamuju, Selasa, 2 Juni 2026.
Menurut Ridwan, melalui satu basis data yang terintegrasi, pemerintah daerah dapat memetakan sebaran stunting secara riil dan presisi. Data ini nantinya akan menjadi fondasi dalam penyusunan konten edukasi, pengembangan fasilitas dashboard, serta penyediaan aplikasi khusus sebagai instrumen intervensi kebijakan. Upaya terpadu ini juga merupakan instruksi langsung dari Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, untuk menekan angka stunting di Bumi Manakarra.
Selain memperkuat infrastruktur data, strategi penanganan stunting di Sulbar juga bertumpu pada komunikasi publik yang masif. Sepanjang lima bulan terakhir, KominfoSS Sulbar aktif memproduksi infografis dan konten edukasi kreatif melalui media sosial dan media massa.
Guna memastikan pesan edukasi menjangkau pelosok desa, Pemprov Sulbar merangkul sedikitnya 120 mitra media online yang tersebar di enam kabupaten. Jaringan kemitraan yang luas ini dikerahkan untuk membangun narasi bersama yang serentak dan berkelanjutan.
“Melalui satu data yang terintegrasi, kita tidak hanya bisa mengedukasi publik secara tepat sasaran, tetapi juga benar-benar menjawab apa yang menjadi kebutuhan riil masyarakat saat ini,” tutup Ridwan.
(*/ad)











