SULBARONLINE.COM, Mamuju – Kepolisian Resor Kota (Polresta) Mamuju tengah membidik aktor intelektual dan penyandang dana di balik aksi unjuk rasa anarkis yang terjadi di depan Kantor Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi V di Kabupaten Mamuju. Demonstrasi yang berakhir ricuh tersebut diduga kuat ditunggangi oleh kepentingan bisnis salah satu pengusaha lokal.
Kapolresta Mamuju, Kombes Pol Ferdyan Indra Fahmi, mengungkapkan bahwa aksi massa tersebut disinyalir tidak murni sebagai gerakan penyampaian aspirasi masyarakat. Berdasarkan hasil pemeriksaan intensif, polisi menemukan indikasi kuat adanya mobilisasi massa yang digerakkan oleh seorang kontraktor yang sakit hati.
“Aksi ini diduga digerakkan oleh salah satu pengusaha atau kontraktor yang merasa kecewa karena tidak mendapatkan paket pekerjaan atau proyek di Kantor BWS tahun ini,” ujar Ferdyan dalam konferensi pers di Mapolresta Mamuju, Rabu malam, 3 Juni 2026.
Skema Aliran Dana: Massa Bayaran Rp100 Ribu per Kepala
Penyelidikan polisi mengungkap fakta mengejutkan mengenai dapur rancangan aksi unjuk rasa tersebut. Demi menciptakan tekanan psikologis terhadap otoritas BWS, sang kontraktor diduga memobilisasi kelompok mahasiswa dan elemen masyarakat menggunakan insentif finansial.
Tak tanggung-tanggung, penyidik mengendus adanya aliran dana segar yang dikucurkan kepada para peserta aksi sebagai ongkos turun ke jalan.
“Ada indikasi kuat pemberian kompensasi atau pembayaran sejumlah uang dengan nilai tertentu, sekitar Rp100 ribu per orang, agar mereka mau melakukan aksi unjuk rasa,” jelas Ferdyan.
Satu Pelaku Penganiayaan Diringkus, Korlap dan Penyandang Dana Dibidik
Sebelumnya, tensi tinggi di depan Kantor BWS Sulbar berujung pada penganiayaan terhadap seorang personel kepolisian yang sedang berjaga. Menanggapi insiden tersebut, tim gabungan Polresta Mamuju bergerak cepat.
Tidak sampai 24 jam, polisi berhasil meringkus pelaku pemukulan berinisial AR (37). Penangkapan AR dipimpin langsung oleh Kapolresta Mamuju. Kepada penyidik, AR mengaku nekat bergabung dalam barisan demonstran karena diajak oleh kerabatnya yang terafiliasi dengan kelompok penggerak tersebut.
Meski pelaku kekerasan fisik telah ditangkap, Polresta Mamuju menegaskan bahwa pusaran kasus ini tidak akan berhenti pada AR semata. Fokus utama kepolisian kini beralih pada perburuan dalang utama di balik layar.
“Kami tidak akan berhenti di kasus penganiayaannya saja. Gelar perkara terus kami kembangkan ke arah aktor intelektual, penyandang dana, serta koordinator lapangan (korlap) yang memobilisasi massa hingga berujung anarkis,” tegas Ferdyan.
Saat ini, penyidik Polresta Mamuju telah memeriksa sejumlah saksi untuk memperdalam konstruksi perkara. Polisi berkomitmen mengusut tuntas kasus ini secara menyeluruh dan memastikan seluruh pihak yang bertanggung jawab atas kericuhan tersebut diseret ke meja hijau.
(ad/ad)





