Oleh: A. Firdaus (Pemuda Mamuju Tengah)
MENJADI anak muda hari ini adalah berada di persimpangan jalan yang bising. Di satu sisi, kita dikepung oleh ritme zaman yang serba cepat, tren media sosial yang melena, dan godaan untuk sekadar menjadi penonton. Namun di sisi lain, ada panggilan sunyi yang menuntut tanggung jawab dari tanah tempat kita berpijak.
Di Kabupaten Mamuju Tengah, bumi yang terus bersolek mengejar ketertinggalan, kemajuan tidak bisa dirayakan dari kejauhan. Kita sering mengeluh tentang ruang-ruang yang belum ideal, tentang pendidikan yang masih butuh pembenahan, atau ekonomi kreatif yang belum sepenuhnya berdaya. Namun pertanyaan mendasarnya, di mana posisi pemuda saat realitas itu hadir di depan mata?
Generasi muda adalah jantung dari peradaban daerah. Kemajuan Mamuju Tengah tidak akan pernah lahir dari barisan pemuda yang hanya sibuk bersolek di warung kopi atau terjebak dalam pusaran gaya-gayaan tanpa isi.
Sudah saatnya kesadaran itu diubah menjadi gerakan. Keterlibatan anak muda harus merembes ke sektor-sektor vital.
Menjadi penggerak literasi dan pemberdaya komunitas hingga ke pelosok desa. Mengubah potensi lokal Mamuju Tengah menjadi karya bernilai tambah di era digital. Hadir membawa solusi konkret atas problema kemasyarakatan di sekitar kita.
Pembangunan daerah ke depan membutuhkan keberanian pemuda untuk masuk dan aktif di ruang-ruang strategis. Kita tidak lagi cukup hanya menjadi penikmat fasilitas, tetapi harus siap menjadi arsitek perubahan.
Mamuju Tengah tidak hanya membutuhkan pemuda yang pandai berwacana, tetapi anak muda yang berani mengambil peran, menghadirkan ide, dan menjadi solusi nyata. Sebab pada akhirnya, sejarah sebuah daerah selalu ditulis oleh mereka yang berani melangkah, bukan mereka yang hanya berdiri di tepi jalan.











