Pemudik Sulbar Waspada, Jalur Alternatif Desa Bunde Mamuju Rawan Kecelakaan

SULBARONLINE.COM, Mamuju — Jalur alternatif di Desa Bunde, Kecamatan Sampaga, Kabupaten Mamuju, kini menjadi pilihan utama pemudik lintas provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) untuk memangkas waktu tempuh perjalanan.

Namun di balik efisiensinya, rute memotong ini menyimpan titik buta berbahaya yang menuntut kewaspadaan penuh dari para pengendara.

Sebab, jalur sepanjang pemukiman warga tersebut memiliki lebar badan jalan yang sangat sempit, yakni hanya berkisar 4 meter saja.

Kondisi ini diperparah oleh kontur trek lurus yang kerap mengecoh pengemudi untuk memacu kendaraan mereka dengan kecepatan tinggi.

Ketika kendaraan melaju kencang, para pemudik baru menyadari bahwa permukaan aspal di kawasan ini sebenarnya tidak rata dan bergelombang.

Di beberapa titik, struktur jalan bahkan terputus (mutus) akibat adanya amblesan tanah yang cukup curam di bagian tepi.

Fenomena ketidakrataan jalan inilah yang sering memicu guncangan hebat hingga mengakibatkan pengendara roda dua kehilangan kendali.

Guna mengantisipasi jatuhnya korban, warga setempat berinisiatif memasang papan pengumuman darurat di bahu jalan sebagai penanda bagi para pelintas.

Papan peringatan tersebut bertuliskan imbauan agar pengguna jalan berhati-hati terhadap lubang galian proyek yang belum rampung sempurna.

Ketut Suwitri, seorang warga lokal, membenarkan bahwa karakteristik jalan yang lurus di Desa Bunde ini sering kali membuat pengendara terlena.

“Banyak pemudik dari luar daerah langsung tancap gas karena jalannya lurus, tanpa tahu kalau di depan ada aspal yang mutus,” ujar Ketut Suwitri saat ditemui di lokasi, Rabu 27 Mei 2026.

Ia menegaskan bahwa penyempitan jalur ini sangat riskan dan meminta pemudik menekan ego dengan menurunkan laju kendaraan demi keselamatan bersama.

Risiko kecelakaan di jalur ini diprediksi akan meningkat drastis saat memasuki malam hari akibat minimnya fasilitas Penerangan Jalan Umum (PJU).

Oleh karena itu, para pelintas lintas provinsi disarankan melakukan navigasi visual secara manual dan tidak hanya terpaku pada aplikasi peta digital.

Kepatuhan untuk mengurangi kecepatan di rute alternatif Sampaga ini menjadi kunci utama agar momen mudik Anda tetap aman hingga sampai di kampung halaman.

(ad/ad)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *