SULBARONLINE.COM, Mateng — Kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Sulawesi Barat (Sulbar) kian menghimpit aktivitas harian masyarakat.
Dari pantauan Sulbaronline.com, warga di Desa Lara, Kecamatan Karossa, terpaksa mengandalkan pasokan air bersih dari unit armada Pemadam Kebakaran (Damkar) Mateng untuk memenuhi berbagai kebutuhan mendesak.
Kondisi kekeringan yang memicu keringnya sumur-sumur warga serta sumber air baku lokal membuat masyarakat tidak memiliki banyak pilihan. Pasokan air dari truk pemadam kebakaran yang biasanya dialokasikan untuk pemadaman api kini beralih fungsi menjadi penopang utama sendi kehidupan warga di kawasan tersebut.
Kebutuhan air bersih tidak hanya terbatas pada konsumsi harian seperti memasak, mencuci, dan mandi. Lebih dari itu, warga memanfaatkan kucuran air dari selang damkar untuk menggelar hajatan keluarga hingga acara tahlilan yang melibatkan banyak kerabat dan tetangga sekitar.
Antrean jeriken, ember, hingga drum penampungan tampak mengular di sepanjang jalan desa tempat armada damkar terparkir. Warga dari berbagai usia saling bahu-membahu untuk memastikan acara keagamaan dan hajatan tetap berjalan lancar.
Petugas Pemadam Kebakaran Mateng, Irfan Nasaruddin, menceritakan bagaimana situasi lapangan saat timnya menyalurkan bantuan air bersih ke Desa Lara. Menurutnya, permintaan dari masyarakat meningkat seiring belum turunnya hujan dalam beberapa bulan terakhir.
“Permintaan pasokan air bersih dari warga Desa Lara belakangan ini sangat tinggi karena sumber air milik warga sudah benar-benar mengering akibat kemarau panjang,” kata Irfan Nasaruddin saat ditemui di lokasi penyaluran air bersih, Rabu, 19 Agustus 2026.
“Warga bahkan menghubungi kami tidak hanya untuk kebutuhan sehari-hari, tapi juga karena ada keluarga yang sedang menggelar hajatan dan tahlilan yang sangat membutuhkan air dalam jumlah besar.” lanjutnya.
Irfan menambahkan bahwa pihak Damkar Mateng berupaya semaksimal mungkin merespons setiap aduan dan permohonan masyarakat meski dengan keterbatasan armada.
“Kami berprinsip misi kemanusiaan ini adalah prioritas utama kami di luar tugas pemadaman. Selama pasokan air baku di posko tersedia dan tidak ada kejadian kebakaran, armada tanki akan terus kami pengerahkan untuk menyuplai air bersih ke pemukiman warga yang krisis,” tutur Irfan.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap bijak dalam mempergunakan bantuan air bersih yang telah disalurkan mengingat perkiraan kemarau masih berlangsung.
“Kami berharap warga dapat menghemat dan memprioritaskan penggunaan air untuk kebutuhan pokok serta agenda vital warga terlebih dahulu hingga kondisi cuaca kembali normal,” ujarnya.
Fenomena pemanfaatan armada pemadam kebakaran sebagai penyalur air bersih mendadak ini menjadi cerminan betapa dalamnya dampak krisis air bersih yang melanda wilayah Sulawesi Barat.
Pemerintah Kabupaten Mateng dan dinas terkait diharapkan dapat mengambil langkah mitigasi jangka panjang, seperti distribusi air berkala atau pembuatan sumur bor dalam, guna mengantisipasi ancaman kekeringan serupa pada masa mendatang.
Sementara itu, warga Desa Lara mengaku sangat terbantu dengan respons cepat jajaran Damkar Mateng. Tanpa bantuan pasokan air tersebut, sejumlah acara keagamaan dan kegiatan kemasyarakatan dipastikan akan tertunda atau terkendala.
Kini, warga Desa Lara hanya bisa berharap hujan segera turun agar krisis air bersih yang mencekik kehidupan mereka segera berakhir.
(ad/hsn)











