SULBARONLINE.COM, Mamuju – Siapa bilang bertani harus punya lahan berhektare-hektare? Di tangan Hajril Hajura, pemuda berusia 26 tahun asal Kelurahan Karema, Kecamatan Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar), keterbatasan lahan justru menjadi ladang bisnis yang sangat menggiurkan.
Memanfaatkan pekarangan kosong yang tak terpakai milik keluarganya, lulusan sarjana hukum ini sukses membuktikan bahwa pertanian urban (urban farming) modern mampu menghasilkan omset bersih hingga puluhan juta rupiah setiap bulan. Lewat bendera bisnis “King Hidroponik Mamuju”, Hajril kini menjadi salah satu pemasok utama sayuran segar di Sulbar.
Berawal dari ‘Iseng’ Pasca-Kuliah
Kisah sukses Hajril tidak terjadi dalam semalam. Langkahnya dimulai pada akhir tahun 2022. Bermodalkan tabungan pribadi dan pinjaman dari keluarga, ia nekat merakit instalasi hidroponik di tengah keterbatasan ruang kota.
“Awalnya cuma coba-coba untuk mengisi waktu luang setelah lulus kuliah. Tapi setelah dipelajari, ternyata permintaan sayur segar di Mamuju dan beberapa kabupaten di Sulbar ini sangat tinggi,” ujar Hajril, Kamis, 7 Juni 2026.
Peluang bisnis ini makin terbuka lebar karena komoditas seperti selada premium dan pakcoy berkualitas tinggi tergolong sulit ditemukan di pasar-pasar tradisional setempat.
Lebih Cepat Panen, Hemat Air 90 Persen
Sistem hidroponik yang diterapkan Hajril memiliki keunggulan kompetitif dibanding pertanian konvensional. Metode ini membuat tanaman tumbuh 20% hingga 30% lebih cepat dengan efisiensi penggunaan air mencapai 90 persen.
Dalam satu siklus tanam selama 30 hari, kebun King Hidroponik mampu memanen sekitar 5.000 pot sayur. Selada menjadi primadona karena permintaannya yang melonjak tajam dari sektor kuliner. Dengan harga jual yang sangat ramah kantong, yakni berkisar Rp7.000 per pot, produk Hajril langsung diserbu pasar.
Saat ini, konsumen King Hidroponik Mamuju terus menggeliat, mulai dari jaringan restoran, kafe, hingga penyedia program dapur makanan bergizi. Hajril memanfaatkan media sosial seperti WhatsApp dan Instagram untuk sistem pemesanan, serta mengandalkan skema titip jual (konsinyasi) di beberapa toko sayur premium di pusat kota Mamuju.
“Omset bersih sekarang rata-rata mencapai Rp25 juta sampai Rp35 juta per bulan. Itu sudah bersih, setelah dipotong biaya operasional seperti listrik, nutrisi, dan bibit,” kata Hajril blak-blakan.
Menularkan Virus ‘Petani Kota’ ke Anak Muda
Dampak yang dibawa Hajril tidak berhenti di kantong pribadinya. Keberhasilannya mulai memicu gelombang ketertarikan di kalangan generasi muda Mamuju untuk melirik sektor pertanian modern.
Sadar akan potensi tersebut, Hajril memilih tidak pelit ilmu. Setiap hari Sabtu, ia membuka pintu kebunnya lebar-lebar untuk menggelar pelatihan hidroponik secara gratis bagi siapa saja yang ingin belajar.
Inisiatif mandiri ini mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat. Kepala Dinas Pertanian Sulbar, Andi Samsuddin, menegaskan bahwa model pertanian urban yang diinisiasi Hajril adalah solusi masa depan.
“Hidroponik adalah solusi nyata untuk pertanian urban yang sangat cocok diterapkan di wilayah dengan keterbatasan lahan seperti Kota Mamuju,” kata Andi.
Bagi Anda yang berada di wilayah Mamuju dan sekitarnya yang ingin mencicipi kesegaran sayur premium atau tertarik belajar, produk dan aktivitas kebun ini dapat diintip melalui akun Instagram resmi mereka di @KingHidroponikMamuju.
(*/hsn)






