SULBARONLINE.COM, Mamuju – Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar), Suhardi Duka (SDK), meminta para penyuluh pertanian di wilayahnya untuk terus memutakhirkan kompetensi dan tidak kalah saing oleh perkembangan teknologi informasi serta kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Pernyataan itu disampaikan SDK saat membuka Rapat Koordinasi Pendayagunaan Penyuluh Pertanian Provinsi Sulbar di Aula Poltekkes Kemenkes Mamuju, Senin 13 Juli 2026. Menurutnya, di era digital saat ini, petani dengan mudah mengakses pengetahuan baru melalui platform seperti YouTube dan AI.
“Terus tingkatkan kemampuan, jangan sampai ilmu petani lebih maju daripada ilmu penyuluh. Sekarang teknologi, AI, YouTube, dan berbagai sumber belajar berkembang sangat cepat,” ujar Suhardi Duka di hadapan ratusan penyuluh pertanian dari enam kabupaten se-Sulbar.
Acara yang diinisiasi oleh Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Kementerian Pertanian ini mengusung tema “Penguatan Peran Penyuluh Pertanian dalam Mendukung Percepatan Swasembada Pangan melalui Pendampingan dan Modernisasi Pertanian”. Rakor ini juga dihadiri secara virtual oleh Anggota Komisi IV DPR RI Dapil Sulbar Ajbar dan Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti.
Dalam kesempatan tersebut, SDK membawa kabar baik mengenai pengalihan status kepegawaian para penyuluh pertanian menjadi pegawai pemerintah pusat. Kebijakan ini dinilai menjadi angin segar di tengah keterbatasan anggaran daerah.
“Karena kemampuan daerah semakin tertekan, tunjangan fungsional maupun operasional penyuluh sulit mengalami peningkatan. Sekarang penyuluh menjadi pegawai pemerintah pusat. Gajinya di pusat, tunjangannya di pusat, operasionalnya juga di pusat. Dengan demikian sekarang penyuluh lebih sejahtera,” kata Suhardi.
Kendati status kepegawaiannya kini berada di bawah naungan pusat, ia mengingatkan agar loyalitas dan totalitas pelayanan di daerah tidak kendor. SDK menegaskan, ketahanan pangan merupakan fondasi stabilitas negara, yang juga menjadi prioritas utama dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Saat ini, produksi beras nasional berada di angka 32–34 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi berkisar 30–32 juta ton. Angka ini membuat Indonesia berada di posisi aman tanpa impor, namun produktivitasnya harus terus dijaga dari ancaman perubahan iklim dan kekeringan.
Beralih ke sektor domestik, Sulbar saat ini bertumpu pada Kabupaten Polewali Mandar (Polmadan Mamuju sebagai lumbung padi daerah. Namun, SDK menyoroti rendahnya Indeks Pertanaman (IP) lahan sawah di Sulbar yang saat ini baru menyentuh angka 1,4 dari total 41 ribu hektare lahan. Artinya, mayoritas petani rata-rata baru bisa panen sekali lebih sedikit dalam setahun.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat kini menargetkan lompatan besar untuk menaikkan angka tersebut ke IP 2.
> “Kalau kita naikkan jadi dua, sama dengan kita cetak sawah sekitar 15 ribu hektare tanpa harus membuka lahan baru,” tutur SDK memberikan simulasi.
Untuk menyokong target tersebut, Sulbar mulai mengadopsi program Pertanian Modern Model Advanced Agriculture System (PM-AAS) yang diuji coba di Wonomulyo. Program ini diproyeksikan mampu mendongkrak produktivitas dari 7 ton per hektare menjadi 10–12 ton per hektare.
Meski demikian, SDK memberikan catatan kritis. Peningkatan kepadatan bibit pada sistem modern wajib dibarengi dengan tambahan pasokan pupuk yang proporsional demi menjaga kualitas bulir padi.
“Kalau makanannya (pupuk) sama, maka yang terjadi buahnya kempes. Kalau buahnya kempes, rendemennya menjadi 40. Bulog tidak mau beli kalau rendemennya 40, Bulog mau beli kalau rendemennya di atas 55, 56,” tegasnya.
Untungnya, kata dia, kebijakan pusat yang memperbesar alokasi anggaran pupuk bersubsidi serta menyederhanakan tata kelola distribusinya kini sangat membantu mempermudah akses petani di lapangan.
Selain fokus pada komoditas padi, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat juga menaruh harapan besar pada revitalisasi sektor perkebunan, khususnya kakao.
Sulbar telah mengajukan usulan bantuan sekitar 17 juta bibit kakao melalui sistem Calon Petani Calon Lahan (CPCL) kepada Kementerian Pertanian. SDK optimis, jika realisasi bibit ini berjalan mulus, kejayaan kakao Sulbar di pasar global akan kembali bangkit.
“Kalau 10 hingga 17 juta terpenuhi, saya kira kakao di Sulbar 5 tahun ke depan akan semakin membaik dan berkontribusi kembali terhadap kakao dunia,” ucapnya optimistis.
(*/ad)






