SULBARONLINE.COM, Mamasa — Siska, seorang ibu muda asal Dusun Paku, Desa Gandang Dewata, Kecamatan Tabulahan, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar) terpaksa ditandu secara bergantian oleh warga sejauh 10 kilometer demi mendapatkan pertolongan medis usai melahirkan di rumahnya.
Aksi gotong royong menembus kegelapan malam tersebut harus ditempuh lantaran akses jalan menuju kampung halaman Siska rusak parah dan sama sekali tidak bisa dilalui kendaraan roda empat.
Perjuangan berat itu bermula saat Siska mulai merasakan kontraksi sejak Kamis subuh, 24 September 2026, sekitar pukul 03.00 WITA. Ia kemudian berhasil melahirkan bayinya di rumah pada pukul 14.00 WITA. Namun, kondisi kesehatannya mendadak memburuk beberapa jam pascapersalinan.
“Sore hari kami infokan ke bidan desa karena Siska sudah mulai kesakitan. Ari-arinya belum keluar dan belum bersih, jadi harus segera mendapat perawatan medis,” ujar Juniarti, warga Dusun Paku, saat dikonfirmasi melalui pesan messangger, Kamis, 24 September 2026.
Lantaran ambulans tak bisa masuk ke dusun mereka, puluhan warga setempat berinisiatif membuat tandu darurat dari kayu dan kain. Warga menandu Siska dari rumahnya mulai pukul 19.00 WITA. Dalam kondisi kritis, rombongan menembus jalanan terjal selama enam jam hingga akhirnya tiba di titik lokasi yang bisa dijangkau mobil sekitar pukul 01.00 WITA dini hari.
Setibanya di jalan poros, Siska langsung dilarikan ke Puskesmas Tabulahan untuk mendapatkan penanganan darurat. Namun, keterbatasan fasilitas membuat pihak puskesmas memutuskan untuk segera merujuknya ke rumah sakit yang lebih memadai di Mamuju.
Bidan jaga malam Puskesmas Tabulahan, Riwana, membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa kondisi pasien membutuhkan tindakan medis spesialis dan transfusi darah dengan cepat.
“Pasien dari Gandang Dewata kami rujuk ke Rumah Sakit Mutiara Ibu Mamuju akibat retensio plasenta (plasenta tertahan) dan membutuhkan transfusi darah golongan A. Setibanya di sana, pasien langsung ditangani oleh tim medis,” ujar Riwana.
Tragedi yang menimpa Siska ini kembali mempertegas mendesaknya pembenahan infrastruktur jalan di kawasan pelosok Mamasa. Tanpa akses jalan yang layak, hak warga pedalaman untuk mendapatkan layanan kesehatan yang cepat dan aman masih harus dibayar mahal dengan pertaruhan nyawa.
(*/an)










