SULBARONLINE.COM, Mamuju — Suasana ramah tamah Peringatan Hari Jadi Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) ke-22 di Lantai 3 Kantor Gubernur Sulbar, Selasa, 22 September 2026, berlangsung khidmat. Salah satu tokoh intelektual utama sekaligus pencetus pembentukan Provinsi Sulawesi Barat, Profesor Basri Hasanuddin, memberikan refleksi mendalam terkait perjalanan daerah serta tantangan kepemimpinan di masa kini.
Dalam narasinya, Guru Besar Universitas Hasanuddin (Unhas) tersebut menganalogikan Provinsi Sulawesi Barat seperti sebuah pesawat tempur yang membutuhkan kapten andal untuk lepas landas.
“Saya titipkan Sulbar ini kepada Pak Gubernur untuk menerbangkan pesawat F-16 Sulbar ini mengangkasa,” kata mantan Rektor Unhas tersebut di hadapan para pejabat daerah dan jajaran Forkopimda yang hadir.
Basri mengingatkan para pejabat publik dan aparat keamanan agar senantiasa mengayomi serta mengerti karakter dasar masyarakat Sulawesi Barat. Mengutip sejarah Raja Mandar pertama, Todilaling, ia menegaskan bahwa pendekatan emosional dan ketulusan adalah kunci utama dalam memimpin daerah tersebut.
“Hati masyarakat Sulbar itu sebenarnya mulia dan gampang. Kalau kita berhasil menyentuh hatinya, mereka akan taat dan mendukung kita. Namun, kalau gagal dan mengabaikannya, mereka akan protes dan tidak keberatan terhadap apa pun,” ujar Basri merujuk pada rekam jejak kepemimpinan para pejabat di tanah Mandar.
Mantan Duta Besar Indonesia untuk Iran ini juga mengutip petuah yang sempat disampaikan Menteri Agama terkait kriteria ideal seorang pemimpin. Menurutnya, kecerdasan intelektual saja tidak cukup tanpa diimbangi oleh moralitas.
“Pemimpin itu harus cerdas dan berhati mulia atau berakhlak. Apa gunanya cerdas kalau karakternya tidak bagus?” tegasnya.
Menilai kepemimpinan Gubernur Sulbar saat ini, Basri mengibaratkannya sebagai sosok pilot yang hadir tepat pada waktunya (right man on the right time). Ia menilai seorang pemimpin ideal wajib memegang teguh tiga prinsip dasar kepemimpinan, pertama Concept (konsep yang jelas), kedua Competency (kompetensi dasar dari rekam jejak dan pendidikan), ketiga strategi yang tepat untuk mengeksekusi visi pembangunan.
Dalam kesempatan nostalgia tersebut, Basri kembali mengenang rumitnya perjuangan memisahkan Sulawesi Barat dari provinsi induknya, Sulawesi Selatan, pada akhir dekade 1990-an hingga awal 2000-an. Menurutnya, pemisahan daerah saat itu kerap dianggap sebagai hal yang mustahil.
Perjuangan tersebut, kata dia, membutuhkan kombinasi antara soft diplomacy (diplomasi lunak) dan hard diplomacy (diplomasi keras). Soft diplomacy diwujudkan melalui penyusunan naskah akademis yang matang agar pembentukan Sulbar tidak dipandang sebelah mata. Sementara hard diplomacy digerakkan melalui aksi demonstrasi dan tekanan politik dari mahasiswa serta masyarakat.
“Banyak pejuang yang terlibat dalam gerakan kolosal ini. Saya hanya bagian kecil dari perjuangan itu dalam kapasitas saya saat itu,” ucap Basri.
(ad/ad)






