SULBARONLINE.COM, Mamuju – Kantor Wilayah Kementerian Haji (Kanwil Kemenhaj) Sulawesi Barat (Sulbar) bergerak cepat mematangkan skenario kepulangan jemaah haji asal Sulbar dari Embarkasi Makassar menuju kabupaten masing-masing. Langkah antisipatif ini diambil guna menghindari problem klasik tahunan, mulai dari koper yang tercecer, keterlambatan distribusi air zam-zam, hingga potensi chaos akibat membeludaknya massa penjemput di titik kumpul.
Kepala Kanwil Kemenhaj Sulbar, Ahmad Barambangi, menegaskan bahwa seluruh proses pemulangan jemaah beserta logistiknya dipastikan berjalan sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP) yang telah ditetapkan oleh PPIH Embarkasi dan PPIH Daerah.
“Insya Allah semua akan berjalan lancar. Pihak Kesra di masing-masing kabupaten sudah melakukan rapat koordinasi dengan Kementerian Haji tingkat kabupaten mengenai persiapan penjemputan jemaah haji di Embarkasi Makassar,” ujar Ahmad Barambangi saat dikonfirmasi, Jumat malam, 5 Juni 2026.
Garansi Air Zam-zam dan Koper Tiba Bersamaan
Salah satu hal yang kerap menjadi keluhan jemaah adalah manajemen logistik barang bawaan. Menjawab kekhawatiran terkait bagasi yang rawan tercecer atau terlambat, Barambangi memberikan garansi bahwa sistem pengangkutan tahun ini jauh lebih terstruktur berdasarkan rapat koordinasi di enam kabupaten.
Berbeda dengan pola lama di mana jemaah harus menunggu lama, pasokan air zam-zam kini dipastikan sudah mendarat lebih awal di daerah tujuan.
“Air zam-zam sudah terdistribusi semua ke kabupaten se-Sulbar. Paling lambat, air zam-zam tersebut akan diberikan kepada jemaah atau keluarga jemaah saat kedatangan di kabupaten masing-masing,” kata Barambangi.
Tak hanya air suci tersebut, tata kelola barang bawaan utama juga dipangkas birokrasinya agar jemaah yang lelah setelah perjalanan panjang tidak telantar menanti kepastian bagasi. “Koper jemaah juga akan diterima di kabupaten masing-masing saat kedatangan,” imbuhnya.
Antisipasi Kepadatan Massa Penjemput
Titik krusial lain yang diantisipasi Kemenhaj Sulbar adalah momen penyerahan jemaah kepada keluarga. Antusiasme masyarakat yang tinggi kerap memicu kerumunan padat di area steril, yang jika tidak dimitigasi dapat memicu kekacauan hingga rawan kriminalitas seperti copet.
Berdasarkan evaluasi gelombang keberangkatan lalu, Kanwil Kemenhaj Sulbar telah menyodorkan formula khusus kepada Pemerintah Daerah (Pemda) setempat untuk memperketat teknis penjemputan.
“Iya, sudah kami berikan masukan ke Pemda agar (kepadatan dan kendala teknis) tidak terulang seperti saat keberangkatan,” tutur Barambangi.
Melalui sinergi antara Kemenhaj, Pemkab, dan aparat kepolisian setempat, alur penjemputan akan diperketat dengan pembagian zona yang jelas. Pemda diharapkan membatasi jumlah penjemput yang boleh masuk ke area steril guna memastikan prosesi kepulangan tamu Allah ini berlangsung tertib, aman, dan khidmat hingga ke pelukan keluarga.
(ad/ad)






