SULBARONLINE.COM, Jakarta – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman merespons keras tren penurunan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang melanda berbagai provinsi di Indonesia. Dalam Rapat Koordinasi Terbuka di Auditorium Kementan RI, Jakarta Selatan, Senin, 8 Juni 2026, Amran menegaskan pentingnya perlindungan konkret bagi sekitar 15 juta petani sawit di tanah air.
“Kita harus jaga petani kita, ada 15 juta petani seluruh Indonesia, tidak boleh kita rugikan mereka,” ujar Andi Amran di depan perwakilan kementerian, polda, dan asosiasi pengusaha sawit.
Merespons instruksi pusat, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), Muh. Faizal Thamrin, turut hadir guna mengawal stabilisasi harga komoditas utama tersebut demi menjaga roda ekonomi daerah. Langkah ini sejalan dengan arahan Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, yang berkomitmen memperkuat daya saing sektor perkebunan dan melindungi kesejahteraan petani lokal.
4 Poin Penting Penyelamatan Harga Sawit
Rapat koordinasi yang juga dihadiri oleh Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Kementerian Perdagangan, serta Kementerian Perindustrian ini menghasilkan empat keputusan krusial untuk mendongkrak kembali harga TBS:
Seluruh Ditkrimsus Polda dan Polres di tiap daerah diinstruksikan untuk memeriksa Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang membeli TBS di bawah harga ketetapan resmi.
Pemerintah membidik kenaikan harga TBS hingga 10 persen dari harga sebelumnya, memanfaatkan momentum kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO) dunia.
Amran Sulaiman menegaskan akan turun tangan langsung memantau dan menindak pihak-mana pun yang tidak mematuhi regulasi tarif.
Saat ini harga TBS dilaporkan mulai bergerak naik, meski sebagian besar wilayah belum mencapai angka ideal sesuai penetapan baku.
Amran menambahkan bahwa harga beli TBS di tingkat petani harus mengacu pada peraturan gubernur di masing-masing wilayah. Skema ini membuat besaran nilai yang diterima petani akan bervariasi sesuai hasil penghitungan resmi pemerintah daerah.
Harapan dari Sulawesi Barat
Ditemui usai rapat, Kepala Dinas Perkebunan Sulbar, Muh. Faizal Thamrin, menaruh harapan besar pada hasil koordinasi nasional ini. Ia berharap regulasi ketat dari pusat mampu menjadi stimulus instan bagi pemulihan harga sawit, khususnya di wilayah Sulawesi Barat.
“Semoga setelah dilaksanakan rapat koordinasi ini, harga TBS di wilayah pengembangan kelapa sawit stabil kembali,” tutur Faizal. Stabilisasi harga ini dinilai krusial bagi Sulbar mengingat sawit merupakan penopang utama pertumbuhan ekonomi yang inklusif di wilayah tersebut.
(*/ad)









