SULBARONLINE.COM, Mamuju – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Barat memperkuat sinergi dengan media massa guna memastikan penyampaian informasi ekonomi yang akurat ke publik. Langkah ini diwujudkan melalui forum diskusi “Sipakada Media: Sinergi dan Kolaborasi dengan Media dalam Rangka Diseminasi Perekonomian Terkini” di Mamuju, Jumat 8 April 2026.
Kepala Perwakilan BI Sulbar, Eka Putra Budi Nugroho, bersama Deputi Kepala Perwakilan BI Sulbar, Erdi Fiat Gumilang, hadir langsung memaparkan laporan ekonomi di tengah tantangan transisi sektoral di wilayah ini.
Deputi Kepala Perwakilan BI Sulbar, Erdi Fiat Gumilang mengatakan, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) pada tahun 2026 akan mencatatkan performa yang menjanjikkan.
“Berdasarkan laporan Perekonomian Sulbar 2026, pertumbuhan ekonomi daerah ini diperkirakan akan melaju di kisaran 5,20 hingga 6,20 persen,” sebutnya.
“Angka proyeksi tergolong ambisius karena berada di atas target pertumbuhan nasional yang dipatok pada kisaran 4,90 hingga 5,70 persen (yoy). Tren positif juga didorong oleh penguatan di sejumlah sektor strategis, meski beberapa sektor utama lainnya diprediksi akan mengalami perlambatan,” lanjutnya.
Ia menyebut BI Sulbar menyoroti tiga lapangan usaha (LU) yang akan menjadi mesin pertumbuhan utama bagi Sulbar pada 2026.
Pertama, sektor perdagangan diprediksi tumbuh meningkat seiring dengan tingginya potensi arus komoditas hortikultura dan perikanan. Selain itu, terjaganya aktivitas konsumsi masyarakat menjadi pemacu kuat bagi stabilitas sektor ini.
Kedua konstruksi, geliat infrastruktur diperkirakan tetap kencang, didukung oleh proyek-proyek pemerintah seperti pembangunan sekolah rakyat dan pengerjaan sejumlah ruas jalan strategis.
Ketiga, administrasi Pemerintahan diproyeksikan meningkat berkat dukungan dropping anggaran pusat untuk program strategis nasional, serta upaya pemerintah daerah dalam diversifikasi sumber pemasukan.
Kendati demikain, meski secara keseluruhan menunjukkan tren penguatan, ia menyebut terdapat catatan merah pada dua sektor vital, yakni pertanian dan industri pengolahan.
“Prospek LU Pertanian dan LU Industri Pengolahan diproyeksikan akan tumbuh melandai,” kata Erdi.
Sementara, pada sektor pertanian, meskipun produksi pangan tetap stabil, terdapat risiko penurunan produksi sawit sebagai dampak dari kebijakan peremajaan lahan atau replanting. Hal serupa menghantui sektor industri pengolahan, di mana produksi CPO cenderung melambat. Namun, perlambatan ini sedikit tertahan oleh tren harga CPO global yang masih dalam level yang menguntungkan.
Jika menilik data historis sejak 2022, ekonomi Sulawesi Barat menunjukkan dinamika yang menarik. Pada 2022, Sulbar sempat tumbuh rendah di angka 2,26 persen. Namun, perlahan tapi pasti, angka tersebut menanjak ke 5,23 persen pada 2023, melampaui pertumbuhan nasional saat itu yang berada di angka 5,05 persen.
Setelah sempat mengalami koreksi tipis menjadi 4,76 persen pada 2024, ekonomi Sulbar kembali bangkit ke angka 5,36 persen pada 2025. Dengan target batas atas mencapai 6,20 persen pada 2026, Sulawesi Barat optimis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan di atas rata-rata nasional.
(red/red)












