Saat Ekonomi Sulbar Mencoba Berlari Lebih Kencang

SULBARONLINE.COM, Mamuju – Angka-angka yang dipaparkan di ruang diskusi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Barat, Jumat sore, 8 Mei 2026, bukan sekadar statistik rutin.

Di balik grafik yang menanjak, tersimpan ambisi besar: Sulawesi Barat ingin berlari lebih cepat dari rata-rata nasional.

Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Bumi Manakarra pada 2026 bakal melesat di kisaran 5,20 hingga 6,20 persen. Jika prediksi ini tepat sasaran, Sulbar akan berada di jalur “jalur cepat”, melampaui proyeksi nasional yang hanya dipatok di angka 4,90 hingga 5,70 persen.

Namun, jalan menuju sana tidaklah rata.

 

Mesin Baru yang Mulai Panas

Dalam forum “Sipakada Media”, Deputi Kepala Perwakilan BI Sulbar, Erdi Fiat Gumilang, mengungkapkan bahwa ekonomi provinsi ini sedang mengalami pergeseran mesin penggerak. Sektor konstruksi dan perdagangan kini menjadi tumpuan baru.

Pembangunan sekolah-sekolah rakyat dan pengerjaan ruas jalan strategis bukan hanya soal semen dan beton, melainkan urat nadi yang diharapkan mampu mempercepat arus komoditas hortikultura dan perikanan. Di sisi lain, guyuran anggaran pusat untuk program strategis nasional menjadi bahan bakar tambahan bagi mesin administrasi pemerintahan untuk terus berputar.

 

Taruhan di Lahan Pertanian

Di balik optimisme itu, BI memberikan “catatan merah” yang tak bisa diabaikan. Sektor pertanian dan industri pengolahan—dua pilar yang selama ini menjadi tulang punggung—mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

Isu replanting atau peremajaan sawit menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ini adalah investasi masa depan; di sisi lain, ia menciptakan lubang pada produksi CPO saat ini. “Prospek sektor pertanian dan industri pengolahan diproyeksikan akan tumbuh melandai,” ujar Erdi dengan nada waspada. Beruntung, harga CPO global yang masih bersahabat setidaknya menjadi bantalan agar perlambatan tidak terjun terlalu bebas.

Menengok ke belakang, perjalanan ekonomi Sulbar adalah kisah tentang resiliensi. Dari titik rendah 2,26 persen pada 2022, provinsi ini perlahan membuktikan taringnya dengan sempat menyalip angka nasional pada 2023.

Kini, dengan target batas atas 6,20 persen pada 2026, Sulawesi Barat sedang mempertaruhkan strateginya. Pertanyaannya kemudian: mampukah diversifikasi sektor perdagangan dan konstruksi menopang beban ekonomi saat sektor hijau (pertanian) sedang berganti kulit?

Hari itu di Mamuju, Bank Indonesia tidak hanya membagikan data, tapi juga menyebarkan pesan bahwa sinergi adalah satu-satunya cara agar proyeksi di atas kertas itu menjadi kesejahteraan yang nyata di pasar-pasar dan ladang-ladang masyarakat.

(red/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *