Perkembangan Tarikat Syatariyah di Minangkabau

Opini663 Views

Oleh : Vannesa Maharani Putri
(Mahasiswa Universitas Andalas
Jurusan Sastra Minangkabau)

Tarekat merupakan jalan yang ditempuh oleh hamba Allah SWT berdasarkan syariat yang dianut oleh seorang ulama yang dinamakan taraikh (pelajar tarikat) atau pejalan tarekat untuk menuju jalan hakikat dengan lebih memahami, mengetahui, dan mengenal Allah SWT. Banyak aliran tarekat yang ada di Minangkabau. Salah satu tarekat yang dikenal dan berkembang di Minangkabau hingga saat ini adalah tarekat Syattariyah yang bermazhab syafi’i.

Penelitian tentang kitab-kitab tarekat Syathariyah banyak dilakukan, tetapi penyusunan dari kitab yang diteliti dengan judul Dinamika Tarekat Syathariyah di Minangkabau tahun 1960-2021. Dari penelitian ini dapat ditelaah bahwasanya ini ajaran Islam yang dijabarkan dalam hasil penelitian misalnya ajaran wujudiyah, tradisi, praktek, muluik nabi, shalat burha keagamaan dan lainnya. Hal ini yang sangat menarik dari ajaran tarekat Syathariyah yang berkembang pesat di wilayah Pariaman hingga sekarang. Tarekat ini dibawa oleh Syekh Burhanuddin dari Aceh dan berguru kepada Syekh Abdul Rauf As Singkili.

Syekh Burhanuddin adalah seorang ulama yang mashyur dalam menyebarkan agama Islam di wilayah Minangkabau maka pengarang kitab ini juga sama dengan apa yang Syekh Abdul Rauf ajarkan. Tentu dalam penelitian ini juga dipelajari di Minangkabau karena tata cara fiqih yang termuat banyak dalam kitab ini maka sama dengan apa yang dilakukan oleh orang Minangkabau pada umumnya. Maka penelitian ini yang harus diketahui oleh orang yang beraliran tarekat Syattariyah yang banyak diamalkan oleh masyarakat Minangkabau pada umumnya. Para pengikut Tarekat Syattariyah banyak ditemukan di daerah Padang Pariaman di Minangkabau karena disinilah Syekh Burhanuddin menyebarkan agama Islam ke seluruh wilayah Minangkabau. Makanya tidak heran jika model pembelajaran tarekat Syattariyah seperti kitab-kitab yang dikarang oleh pengarang seperti ini dijadikan implikasi serta model pembelajaran tarekat dalam pendidikan. Misalnya di daerah Padang Pariaman tentu hal ini tidak asing bagi orang Minangkabau karena di Padang Pariaman banyak orang yang mengikuti aliran Syekh Burhanuddin hingga saat ini.

Tarekat Syathariyah wilayah Minangkabau adalah ajaran spiritual agama) yang didasarkan pada ajaran yang tertuang dalam buku berjudul Tujuh Martabat Ajaran. Pada dasarnya, Tulisan-tulisan para ulama setempat (Minangkabau/Aceh) bisa dijadikan pedoman bagi praktik keagamaan komunal yang dianut oleh para pengikut tarekat Syathariyah di wilayah Minangkabau. Karna dokumen-dokumen para ulama setempat masih berdasarkan pada al-Qur’an dan hadist, Pendekatan sutisfik bagi komunitas syathariyah digunakan dalam penafsiran kitab-kitab tersebut.

Banyak model dari praktek-praktek keagamaan dan tradisi-tradisi keagamaan yang dikaitkan dengan ajaran masyarakat Syatthariyah di Minangkabau ini, tentu saja didasarkan pada tafsir ayat-ayat al-Qur’an dan pengalaman pribadi seorang tasawuf(ulama yang mendapatkan wahyu dimasa lalu) dalam perjalanan mistiknya. Misalnya, ada amalan dan ibadah agama seperti sholat hajat Syeikh Aminullah Mato Aie, Sholat mandi Inyiak Rajo, sholat burha, serta tradisi-tradisi maulid dengan membaca buku-buku ahli saraf dan lainnya. Hal lain dari perjalanan spiritual (ulama) yang dipandu oleh interprestasi sufistik terhadap alquran dan hadist. Minangkabau memiliki pedoman praktik keagamaan sekte Shattariyah, yang memberikan pedoman normatif untuk ibadah yang mudah diterima oleh masyarakat. Implementasi pedoman ibadah sunnah ini menunjukkan bahwa ajaran Shattariyah masih diterapkan, setidaknya di Minangkabau, dan aspek syariah diutamakan dalam praktik agama Tarekat.

Tarekat Syathariyah masih eksis hingga sekarang di Minangkabau. Karena banyak orang beranggapan di Minangkabau khususnya penganut tarekat Syathariyah hingga sekarang masih sangat banyak karena tarekat ini adalah bagian Apa yang Syekh Abdul Rauf pelajari ke Mekkah Sesuai dengan kutipan dalam jurnal “Tujuh Ajaran Martabat” itu berasal dari Al Burhanpuri yang datang ke Aceh melalui Syekh Abdul Rauf Singkiri dan berakhir di Minangkabau, lebih tepatnya Pariaman. Ajaran Tujuh Martabat yang berkembang di Minangkabau mengalami banyak perubahan dengan ajaran Abdul Rauf sebagai Singkiri. Hal ini karena mereka menghadapi banyak tantangan dari masyarakat Minangkabau dan sekitarnya. Yang paling menonjol adalah tantangan yang ditimbulkan oleh suku Mudo, perwakilan dari kelompok Minangkabau modernis.

Dengan demikian, ajaran tujuh keagungan yang berkembang di wilayah Minangkabau tersembunyi dalam ideologi manifestasi Wahdah Al-wujud. Dalam kutipan penelitian tersebut dapat dilihat bahwa pembelajaran tentang tarekat yang dianut oleh Abdul Rauf dari Aceh kemudian disebarluaskan oleh Syekh Burhanuddin yang ada di Ulakan. Karena hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa pengaruh Islam Aceh dan Minangkabau itu ada karena orang-orang Minangkabau yang dahulunya suka merantau tentu sebelum ajaran Islam masuk mendapatkan pertentangan yang dilakukan oleh masyarakat. Seperti yang dikutip dari penelitian tersebut banyak orang yang menentang salah satunya adalah kaum mudo dari Minangkabau. Tetapi dengan ajaran Islam yang sesuaa juga dengan ajaran dari Minangkabau tentu Islam sangat mudah diterima oleh masyarakat Minangkabau

Oleh karena itu, dinamisme Islam Minang tidak lepas dari keberadaan Talekat yang sangat besar pengaruhnya bagi masyarakat. Orang Minang yang aslinya beragama Islam akan merasa tidak nyaman jika ada orang Minang yang bukan beragama Islam. Memang, Islam pertama kali diperkenalkan ke Minangkabau pada abad ke-7, dan perkembangan pada abad ke-13 melihat perpaduan Islam dan adat Minang dalam proses asimilasi dan akulturasi yang bergejolak, yang akhirnya memunculkan bentuk Islam lokal. Bentuk yang hanya ada di Minangkabau. Perpaduan nilai-nilai agama dan adat yang diungkapkan dalam filosofi tradisional Minangkabau melahirkan filosofi hidup Minang yang terkenal: ‘Adat Basandi syarak ‘ Syarak Basandi Kitabullah’.

Dalam hal ini, sangat penting untuk memperhatikan Surau sebagai pusat pengembangan ajaran Islam, khususnya dalam bentuk Tarekat Syattariyah, dan perlu diperhatikan peran Islamisasi yang dilakukan oleh Syekh Burhanuddin dan murid-muridnya yang tersebar di seluruh wilayah Minangkabau. penting. Konflik internal dan antarkomunal antara kalangan syattariyah, atau bahkan dengan para pembaharu modernis yang kembali dari Mekkah dan mengembangkan Wahabisme dalam bentuk kaum Padri dan pemuda dari negara-negara Arab, dan Islamisasi di sana, menjadi sebuah proses untuk mempromosikan.