SULBARONLINE.COM, Mamuju – Tren digitalisasi keuangan di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) menunjukkan grafik yang kian “seksi”. Data terbaru Bank Indonesia mengungkapkan, volume transaksi menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS di Sulbar menembus angka 2,51 juta transaksi pada Triwulan I 2026.
Lonjakan ini menandakan pergeseran signifikan pola konsumsi masyarakat dari uang tunai ke gaya hidup nontunai (cashless). Laju pertumbuhan transaksi ini tercatat meroket tajam jika dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya, di mana pada awal 2024 menurut data Bank Indonesia (BI) Sulbar menyebut volume transaksi masih berada di kisaran 1,3 juta.
Masifnya penggunaan QRIS tidak lepas dari “invasi” merchant yang kian merata di seluruh kabupaten. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 111.384 pedagang telah mengadopsi QRIS sebagai kanal pembayaran resmi mereka.
Mamuju dan Polewali Mandar (Polman) masih menjadi motor utama penggerak ekonomi digital di provinsi ini. Berikut adalah peta sebaran merchant QRIS di Sulawesi Barat yang dirilis BI Sulbar Jumat, 8 Mei 2026:
• Mamuju: 39.996 merchant
• Polman: 28.885 merchant
• Pasangkayu: 16.587 merchant
• Majene: 13.737 merchant
• Mamasa: 9.478 merchant
• Mamuju Tengah (Mateng): 2.731 merchant
Deputi Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Barat Erdi Fiat Gumilang mengatakan, sejalan dengan jumlah pedagang, angka pengguna juga menunjukkan tren positif. Secara akumulatif kata dia, terdapat 122.922 pengguna QRIS di Sulawesi Barat.
“Menariknya setelah sempat mengalami fluktuasi pada tahun 2024, jumlah pengguna baru kembali menunjukkan grafik menanjak pada awal 2026 dengan penambahan mencapai 6.598 pengguna dalam satu kuartal terakhir,” ungkapnya.
“Kenaikan volume transaksi hingga mencapai 2,5 juta ini adalah validasi bahwa infrastruktur digital dan literasi keuangan masyarakat Sulbar sudah berada di jalur yang benar. QRIS bukan lagi sekadar alternatif, melainkan kebutuhan pokok dalam transaksi harian,” lanjut Gumilang.
Dengan capaian ini, Sulawesi Barat kian mengukuhkan posisinya sebagai salah satu wilayah dengan adaptasi teknologi finansial yang progresif di kawasan Sulawesi, sekaligus mendorong transparansi dan efisiensi ekonomi di tingkat daerah.
(red/red)






