PERLAWANAN DUA PEJUANG

(Belajar Jejak Bung Karno dan Bung Hatta Melawan Penjajah Israel)

Oleh: Furqan Mawardi (Dosen STIE Muhammadiyah Mamuju)

OPINI — Pendudukan dan penjajahan tanah Palestina oleh Israel sejak tahun 1948 hingga kini terus menjadi konflik. Perlawanan rakyat Palestina untuk mempertahankan negaranya terus mereka perjuangkan. Bagi rakyat Palestina pendudukan kaum Israel atas bangsa mereka merupakan sebuah bentuk penjajahan yang wajib untuk terus dilakukan perlawanan hingga menggapai kemerdekaan.

Bagi bangsa Indonesia penjajahan merupakan sebuah prilaku biadab yang wajib untuk dilenyapkan dari muka bumi ini. Karena penjajahan merupakan sebuah bentuk penindasan yang menghilangkan hak dasar hidup setiap orang untuk merasakan kemerdekaan. Untuk itu bunyi Undang-undang Dasar negara kita begitu tegas menyatakan bahwa segala bentuk penjajahan dibuka bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan.

Israel yang dimotori oleh zionis Yahudi merupakan penjajah yang hingga kini terus menduduki wilayah dan membuat sengsara rakyat bangsa Palestina. Seruan disertai kecaman yang disampaikan dari berbagai negara di seluruh dunia untuk menghentikan kebiadabannya hanya dijadikan angin berlalu yang tidak pernah mereka hiraukan. Para serdadu zionis Israel yang tanpa hati nurani dan tanpa henti terus menembaki dan membunuh secara sadis para warga Palestina. Seperti yang terbaru kita saksikan di beberapa media terkait penembakan jamaah masjid Al Aqsha yang sedang melaksanakan sholat taraweh pada akhir Ramadhan lalu.

Belajar dari dua Tokoh

Perlawanan bangsa Indonesia terhadap pembelaan kemerdekaan Palestina sejak awal telah di lakukan oleh para tokoh-tokoh bangsa. Soekarno dan Hatta telah memberikan contoh nyata serta teladan, bagaimana sikap dalam menantang segala bentuk pejajahan dan penindasan yang dilakukan oleh Israel. Sikap heroik kedua tokoh bangsa tersebut tentu perlu digali kembali supaya dapat menjadi pelajaran bagi para generasi penerus selanjutnya. Sikap para kedua tokoh bangsa tersebut diantaranya adalah :

Bung Karno, Presiden pertama Indonesia merupakan tokoh bangsa yang sangat tegas dalam menolak segala bentuk hubungan dengan Israel. Bahkan hingga akhir hayatnya bung Karno tidak pernah mengakui berdirinya Israel sebagai sebuah negara yang telah merampas tanah rakyat Palestina sejak tahun 14 Mei 1948.
Terkait penolakan Soekarno terhadap eksistensi Israel sebagai sebuah negara terekam pada baberapa kejadian dan tercatat dalam sejarah, diantaranya adalah :

Pertama, Tidak mengundang Israel pada konferensi Asia Afrika

Konferensi Asia Afrika (KAA) yang dimotori Oleh Presiden Soekarno pada April tahun 1955 yang di adakan di gedung Merdeka Bandung, merupakan sebuah acara Akbar yang mempertemukan para pemimpin negara dari dua benua. Sebanyak 29 perwakilan dari negera negara di benua Asia dan Afrika hadir di acara tersebut . Konferensi yang menjadi pemersatu negara-negara yang menjadi sasaran penjajahan di Asia dan Afrika, mereka menggalang kerja sama dan sepakat menentang kolonialisme di tengah dunia yang terbagi dua kubu, yakni Timur dan Barat.
Namun Israel merupakan negara yang tidak diundang oleh Soekarno, meskipun beberapa negara ikut memberi saran agar supaya Israel tetap diikutkan. Namun bagi Soekarno Israel merupakan penjajah bagi negara Palestina dan tentu hal tersebut bertentangan dengan spirit dan tujuan konferensi. Akhirnya KAA berlangsung hingga selesai tanpa keikutsertaan Israel akibat sikap tegas Bung Karno menghadapi prilaku kaum penjajah.

Kedua, Menolak bertanding sepak Bola dengan Israel

Sebenarnya pada tahun 1957 tim sepak bola nasional Indonesia sudah berhasil lolos pertandingan tingkat Asia dan hanya butuh bertanding melawan Israel untuk dapat lolos ke Piala Dunia 1958 yang dilaksanakan di Swedia.

Namun untuk lolos, yang akan dilawan bertanding adalah Israel, Kedua tim harus bertanding tandang dan kandang, di Jakarta dan Tel aviv. Mengetahui hal tersebut, presiden Soekarno dengan tegas melarang tim untuk bertanding dan lebih memutuskan mundur dari pertandingan. Bagi Bung Karno melawan bertanding dengan Israel berarti telah memberi pengakuan bagi mereka sebagai sebuah negara. Akibat keputusan tersebut akhirnya tim sepak bola harus rela pelepaskan kesempatan emas untuk dapat masuk ke piala dunia dan lebih memilih memberikan dukungan kepada Palestina untuk terus melawan penjajahan.

Ketiga, Tidak Memberikan Visa kepada kontingen Israel

Pada tanggal 24 Agustus hingga 4 September tahun 1962, Asian Gemes IV berlangsung dan Indonesia bertindak sebagai tuan rumah. Atas perintah Soekarno, para atlet perwakilan Israel tidak diberikan visa. Sebagai alasan karena Israel dan Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik.

Namun dibalik hal tersebut tidak lepas dari posisi Israel yang masih terus melakukan penjajahan bagi rakyat dan bangsa Palestina, yang tentu hal tersebut merupakan bentuk imprealisme yang jauh dari spirit dan tujuan daripada Asian games. Bahkan dengan tegas bung Karno memberi statemen“..Untuk Israel, selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel”.

Bung Hatta, beliau merupakan tokoh bangsa yang juga sangat tegas penolakan dan perlawanannya terhadap segala bentuk penjajahan dan imprealisme yang dilakukan oleh Israel. Pada tahun 1949, bangsa Indonesia dalam situasi yang betul-betul memperoleh kedaulatannya sebagai sebuah negara yang merdeka dan berdaulat.

Hal tersebut menjadikan negara-negara seluruh dunia ikut memberikan pengakuan atas kemerdekaan penuh yang telah di peroleh. Tidak ketinggalan Israel turut memberikan dukungan dan pengakuan. Namun oleh bung Hatta pengakuan Israel hanya dibalas dengan tanggapan dingin dan tanpa adanya keinginan maupun penawaran hubungan diplomatik. Hal tersebut berbeda dengan beberapa negara-negara lain yang langsung melakukan kesepakatan hubungan diplomatik antar negara.

Demikian juga ketika Israel berencana mengirimkan misi perdamaian ke Indoensia, Bung Hatta langsung menolak dengan tegas atas rencana tersebut. Bentuk penolakan disampaikan Hatta dalam sebuah surat balasan yang dikirimkannya kepada perdana mentri Moshe Sharett pada Mei 1950.

Prilaku yang ditujukkan oleh kedua tokoh bangsa Soekarno dan Hatta terhadap ketegasan mereka terhadap Zionis Israel merupakan sikap konsisten mereka terhadap penolakan akan penindasan dan penjajahan. Mereka sadar bahwa penjajahan hanya akan membawa kepada kesengsaraan dan kebinasaan. Demikian pula sebaliknya bahwa dengan kemerdekaan akan memberikan harapan kehidupan yang lebih baik serta kemajuan yang mencerahkan .

Semoga sikap kedua tokoh tersebut senangtiasa terpatri dalam setiap sanubari anak bangsa di dalam melawan segala bentuk penjajahan dan penindasan. Sehingga selalu ada gerakan melakukan perlawanan sesuai dengan kemampuan serta kapasitasnya masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *