by

Selektif dalam Memilih Dakwah di Media Sosial

SULBARONLINE.COM, Minahasa Selatan — Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada 28 Juni 2021 di Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.

Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi. Adapun tema kali adalah “Khotbah yang Ramah di Internet”. Kegiatan ini diikuti oleh 547 peserta dari berbagai kalangan.

Program kali ini menghadirkan empat narasumber yang terdiri dari Ahmad Nurcholish selaku Deputi Direktur ICRP, Hafiid Pratama selaku pemengaruh, Abdul Rifay selaku Tim Dakwah Alkhaeraat, dan Rosniawanty Fikri Tahir selaku Ketua AJI Kendari sekaligus pelatih Google News Initiative (GNI). Adapun yang bertindak sebagai moderator adalah Ernawati. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan peserta sebanyak 57.550 orang.

Pemateri pertama adalah Ahmad Nurcholish yang membawakan tema “Pemanfaatan Internet untuk Menyebarkan Konten Positif bagi Pemuka Agama”. Ahmad menyampaikan bahwa tren beragama di media sosial didominasi oleh konservatisme sebesar 67,2%. Kemudian, Ahmad menjelaskan mengenai peran pemuka agama, yaitu pendidik/penyuluh, pembina/pencerah, dan penjaga moral/etik.

“Contoh gerakan berbagi konten positif di media sosial, di antaranya Suara Muhammadiyah, islami.co, dan alif.id,” imbuhnya.

Berikutnya, Hafiid Pratama menyampaikan materi berjudul “Bijak di Kolom Komentar”. Hafiid menuturkan bahwa perlu kehati-hatian dalam mempelajari agama dari media sosial. Harus ada benteng dan tameng yang besar untuk menuntun kita ke arah yang lebih baik.

“Literasi digital itu penting untuk ditanamkan, terutama pada kalangan yang masih muda,” kata Hafiid.

Sebagai pemateri ketiga, Abdul Rifay membawakan tema tentang “Literasi dalam Berdakwah di Dunia Digital”. Rifay mengungkapkan bahwa, di Indonesia, faktor agama masih dianggap elemen terpenting dalam kehidupan. Ia juga membagikan tips untuk menyebarkan kebaikan melalui media digital, seperti mengangkat tema yang bersentuhan langsung dengan sasaran dakwah, tidak diskriminatif, dan menyajikan konten yang baik.

“Beri juga ruang untuk evaluasi kepada sasaran dakwah,” imbuhnya.

Rosniawanty Fikri Tahir, sebagai pemateri terakhir, menyampaikan tema tentang “Tips dan Pentingnya Internet Sehat”. Dalam pandangannya, aktivitas di dunia maya maupun dunia nyata sama-sama memiliki konsekuensi.

Oleh karena itu, pengguna internet harus memikirkan dampak dari aktivitasnya, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

“Salah satu cara mengurangi dampak negatif dari aktivitas di internet, misalnya tidak mengakses konten negatif, tidak melanggar hukum, menyesuaikan dengan kebutuhan, dan menjunjung etika digital,” urainya.

Program Literasi Digital mendapat apresiasi dan dukungan dari banyak pihak karena menyajikan konten dan informasi yang baru, unik, dan mengedukasi para peserta. Kegiatan ini disambut positif oleh masyarakat Sulawesi.

Sementara itu, salah satu peserta, Heri Susanto, bertanya tentang adakah pelatihan khusus yang diadakan oleh pemerintah atau lembaga terkait untuk pemuka agama untuk dapat berdakwah yang baik secara daring. Menurut Ahmad, Kemenag memiliki semacam pembekalan untuk pemuka agama, hal ini berlaku pula pada Kemenag di beberapa daerah.

Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai dari Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan materi yang informatif yang disampaikan narasumber terpercaya.

Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed