by

ETIKA SAAT PANDEMI COVID 19

Oleh : Jiddan Maulana Daud (Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Ahmad Dahlan)

SULBARONLINE.COM, Opini — Berbicara tentang Covid yang telah menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Pandemi Covid-19 kita harus mejaga jarak dengan sebagian orang karena Virus dan bakteri dapat menyebar melalui percikan (droplet) batuk dan bersin. Kuman dari droplet yang mengandung patogen ini dapat menularkan penyakit. Di antaranya batuk rejan, influenza, pilek, dan infeksi virus corona atau Covid-19. Kita kita ketahui covid 19 ini sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan kita sehari-hari dan kebiasaan dulupun berubah karena adanya pandemi covid 19.

Saat batuk atau bersin, ribuan hingga jutaan kuman dapat terbang ke udara. Melansir Business Insider, di dalam paru-paru tubuh kita terdapat setengah liter cairan. Begitu batuk atau bersin, lendir tersebut keluar berupa percikan cairan yang dipenuhi kuman. Semprotan percikan cairan mengandung kuman ini dapat terbang ke udara. Tetesan percikan mengandung kuman dari bersin atau batuk tersebut lantas dapat terhirup secara langsung dari orang yang berada di sekitar kita. Sebagian kuman dalam droplet juga bisa bertahan di udara sampai beberapa saat.

Ada prosedur etika batuk dan bersin yang harus Anda terapkan saat di tempat umum, seperti :
1. Jauhkan wajah dari orang lain Ketika batuk/bersin
2.Tutupi hidung dan Mulut dengan tissue
3. Gunakan Lengan jika tidak ada tissue
4. Selalu membersihkan tangan

Bagaimana etika hadir di tengah manusia yang menghadapi krisis pandemi virus corona pada saat ini?

Sebuah wawancara yang dilakukan Sandra Hodendahl-Tesch dengan Christoph Stuckelberger yang di unggah dalam situs World Council Of Churches (WCC). Wawancara ini pertama kali diterbitkan dan diproduksi dalam bahasa Jerman oleh Reformiert.info. Christoph Stuckelberger adalah Direktur Eksekutif Yayasan Geneva Agape. Dia adalah profesor Etika di Basel / Swiss, Beijing / Cina, Moskow / Rusia dan Enugu / Nigeria, serta beliau adalah pendiri globethics.net yang sangat menarik untuk disimak dan kita dibahas.

Di tengah pandemi Covid-19 yang tengah melanda dunia saat ini, menyangkut kehidupan manusia yang banyak muncul berbagai pertanyaan dan diskusi mengenai wabah ini. Hal ini bukan saja tentang medis dan kesehatan atau dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh virus ini, tetapi juga hal-hal yang menyangkut etika dan spiritual manusia yang terdampak oleh virus ini. Karena pademi ini dengan skalanya yang luar biasa, yang dimana sangat menyangkut masalah-masalah eksistensi manusia tentang kehidupan dan kematian.

Etika dalam komunikasi krisis melalui media sosial yang dilakukan pemerintah perlu diperhatikan dengan cermat. Jika tujuannya mendapatkan kepatuhan masyarakat, maka sampaikan pesan yang mudah diterima semua kalangan. Pahami kondisi psikologis masyarakat di tengah pandemi yang rentan stres bahkan depresi karena segala keterbatasan dalam beraktivitas meski Covid-19 adalah sesuatu yang baru dan memerlukan penanganan cepat.

Isi pesan yang disampaikan melalui berbagai saluran harus dipertimbangan, sehingga tidak memperkeruh suasana. Dengan demikian sangat penting bagi pemerintah membuat perencanaan komunikasi krisis yang baik dan beretika agar tujuan komunikasi untuk menanggulangi dampak pandemi Covid-19 yang diinginkan tercapai.

Pada akhirnya, kerja keras pemerintah Indonesia dalam menangani pandemi Covid-19 sampai sejauh ini patut diacungi jempol. Banyak pelajaran penting dan berharga dari Covid-19 yang dikategorikan sebagai bencana non-alam. Virus corona penyebab Covid-19 memang sangat cepat menyebar hingga menyebabkan kepanikan.
Apalagi sampai saat ini obat untuk mengatasi Covid-19 belum ditemukan. Tetapi ada cara terbaik untuk meredam kepanikan akibat persebaran virus corona, yakni dengan komunikasi krisis yang efektif dan beretika. Empati, kejujuran, serta keadilan, menjadi kunci komunikasi krisis untuk menciptakan kerja sama yang harmonis antara pemerintah dan rakyat dalam menanggulangi dampak pandemi Covid-19.

Di akhir tahun 2020 ini, covid 19 masih dengan hari biasanya. Walaupun sudah banyak yang sembuh dan berharap bisa Kembali normal. Apakah kehidupan sehari-hari kita yang akan berubah seperti sekarang ini untuk kedepannya? Atau bisa Kembali normal seperti semula?

Yang terpenting kita tetap menjaga dan mengikuti aturan protocol covid 19.
Ini bukan tentang individu, tapi tentang kerja sama satu negara agar dapat terlepas dar
pandemi covid 19 ini dengan cara jaga jarak dan mengikuti protokol Kesehatan. WHO belum pernah mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan jika virus Corona dapat ditularkan melalui udara. Selain itu WHO juga sempat menuliskan dalam akun instagramnya, jika virus Corona hanya dapat ditularkan melalui tetesan yang dihasilkan ketika orang yang terinfeksi virus Corona batuk dan bersin.

Akan ada perubahan persepsi yang signifikan, terutama sebagai akibat dari keruntuhan ekonomi. Hutang global akan bertambah besar seperti pada tahun 1980-an. Dibutuhkan upaya yang sangat besar untuk mengatasi hal ini dan memulihkan ekonomi dunia yang berfungsi dengan baik. Teknologi digital akan semakin penting. Tujuan pembangunan keberlanjutan makin sulit dicapai. Meskipun demikian, saya percaya diri, seseorang akan mengakui pentingnya organisasi multinasional dan tahu bahwa WHO memainkan peran yang sangat penting, tidak hanya berkoordinasi, tetapi juga prediktif dan membantu. Kita mengandalkan struktur internasional.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed