by

Mengenang Sosok Raja Mamuju Andi Maksum DAI

SULBARONLINECOM, Mamuju — H. Andi Maksum Djalaluddin Ammana Inda (DAI) meninggal pada Rabu (09/09/2020) di Rumah Sakit Akademis Jaury Yusuf Putra Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) sekira pukul 20.00 WITA.

Maradika atau Raja Mamuju ini wafat di usia 78 Tahun. Ia menghembuskan nafas terakhir setelah dirawat kurang lebih sebulan di Makassar.

Kepergiannya pun meninggalkan luka mendalam dan kesedihan bagi banyak orang. Tak hanya masyarakat Mamuju saja, tapi seantero jagat Sulawesi Barat. Bahkan sejumlah raja-raja di Nusantara.

Almarhum merupakan sosok yang luar biasa, bijaksana, toleran, pluralis, berwibawa, negarawan dan visioner.

Andi Maksum lahir di Mamuju 13 Juni 1943. Ia merupakan Raja (Maradika) Mamuju yang ke-16, setelah sepeninggal ayahanya, Raja Mamuju ke-15, H. Andi Djalaluddin Ammana Inda pada Tahun 1964. Nama Ibunya andalah Andi Tenri Ballowo.

Sementara, Istri Maradika bernama Hj. Bau Sufiat Rajab Maksum. Dari pernikahannya, mereka dikaruniai 4 orang anak, yakni Bau Akram Dai, Bau Maswad Dai, Bau Mirza Dai dan Bau Rulli Dai.

Andi Maksum tamat dari Sekolah Rakyat (SR) VI (Enam) Mamuju pada Tahun 1955, SMP tamat pada Tahun 1958, SMA tamat pada tahun 1962 di Makassar, dan melanjutkan Pendidikan di perguruan Tinggi di Fakultas Sosial Politik di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar Tahun 1962-1964.

Jenjang pendidikan lain yang pernah dilalui oleh Maradika yakni Penatar P4 Type A Tahun 1981 di Mamuju dan Tarpadnas Angkatan I tingkat Sulawesi Selatan (Sulsel).

Andi Maksum DAI juga dikenal memiliki perjalanan panjang dalam menjalani sejumlah organisasi. Di mana, pada Tahun 1970, ia pernah menjabat sebagai Ketua KINO MKGR Sekber Golkar Daerah Tingkat II Kabupaten Mamuju, Tahun 1974 -1989 menjadi Wakil Ketua DPD Partai Golkar Tingkat II Kabupaten Mamuju, juga pernah menjabat sebagai Ketua AMPI Kabupaten Mamuju.

Selain itu, ia juga pernah menjadi Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Mamuju, Ketua SOKSI Kabupaten Mamuju dan Ketua SPSI Kabupaten Mamuju. Terakhir, Ia juga menjabat sebagai Ketua Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) Sulawesi Barat dan menjadi Dewan Pembina Komunitas Aktivis Muda Indonesia (KAMI) Wilayah Sulawesi Barat.

Maradika (Raja) Mamuju, H. Andi Maksum Djalaluddin Ammana Inda saat berbincang-bincang dengan salah satu Tokoh Pemuda Sulbar, Ashari Rauf, di kediaman Raja Mamuju di Jl. Emmy Saelan, Mamuju.

Sementara, untuk riwayat pekerjaan, Maradika Mamuju juga tercatat pernag menjadi Anggota DPRD tingkat I dan tingkat II. Dimulai Tahun 1977, Andi Maksum menjadi anggota DPRD Tingkat II Kabupaten Mamuju. Lalu, ia kembali terpilih pada Tahun 1982, dan saat itu menjadi Ketua Fraksi Karya Pembangunan.

Selanjutnya, pada Tahun 1987, ia menjabat sebagai Ketua DPRD Tingkat II Kabupaten Mamuju. Pada Tahun 1992-1997, Andi Maksum menjadi anggota DPRD Tingkat I Sulawesi Selatan.

Saat Sulawesi Barat terbentuk dan memisahkan diri dari Provinsi Sulawesi Selatan, pada Tahun 2004-2006 Andi Maksum kembali menjadi Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Barat.

Selain itu, perjuangan, prestasi dan penghargaan juga tak dapat dipungkiri begitu banyak dari sosok H. Andi Maksum DAI. Tercatat, ia merupakan pejuang terbentuknya Provinsi Sulawesi Barat. Ia juga merupakan sukarelawan aktif bersama ABRI menumpas DI-TII di Kabupaten Mamuju pada tahun 1964-1966, dan pada Tahun 1998 Andi Maksum dipercaya sebagai Ketua kelompok 7 Pro reformasi di Kabupaten Mamuju.

Sementara, penghargaan yang ia terima tak terhitung jumlahnya. Beberapa di antaranya, H. Andi Maksum menerima penghargaan sepertu dari Asean Development Golden Awards dari Citra Mandiri Indoneisa pada Tahun 2003, kemudian memperoleh penghargaan medali dari The Centre Hindu Of Indonesia pada Tahun 2013 dan memperoleh piagam sebagai tokoh pluralisme The Centre Hindu Of Indonesia pada Tahun 2013.

Penghargaan lain dari Pemerintah, baik tingkat Kabupaten, Provinsi hingga tingkat Nasional tak terhitung jumlahnya.

Sosok H. Andi Maksum benar-benar akan dirindukan. Begitu banyak karya dan persembahan terbaiknya untuk Mamuju, dan Sulawesi Barat pada umumnya.

Masih segar dalam ingatan, persembahan yang tak bisa dilupakan adalah menjadikan Mamuju sebagai tuan rumah pelaksanaan Forum Silaturahmi Kraton Nusantara (FSKN) yang dihadiri hampir 100 raja-raja di Nusantara.

Selamat Jalan Sang Maestro dan Tokoh Kebanggaan Sulbar. Alfaatihah.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed